Sosok
Neas Wanimbo, Pemuda yang Menolak Membiarkan Anak Papua Tertinggal
eas Wanimbo berdiri di depan sebuah papan tulis kecil, menatap mata-mata polos yang haus akan ilmu namun terhimpit keterbatasan.
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Di bawah langit Kampung Huewi yang sunyi, suara anak-anak mengeja kata mulai memecah keheningan sore.
Di sana, Neas Wanimbo berdiri di depan sebuah papan tulis kecil, menatap mata-mata polos yang haus akan ilmu namun terhimpit keterbatasan.
Baginya, pendidikan bukan sekadar deretan angka di rapor, melainkan kunci untuk memerdekakan masa depan anak-anak di Distrik Tangma, Papua Pegunungan yang selama ini sering terlupakan oleh riuhnya kemajuan kota.
Langkah Neas dimulai dari keresahan melihat data BPS yang memotret realita pahit.
Rata-rata sekolah di tanah kelahirannya hanya bertahan enam tahun.
Baca juga: Kisah Karles Rompas 45 Hari Dihantam Ombak Lautan Manado, Ditemukan Selamat di Perairan Jayapura
Berbekal tekad saat menempuh studi di Jakarta, ia mengetuk pintu hati kawan-kawannya untuk mengumpulkan buku dan donasi.
Perjuangan itu akhirnya mengkristal pada tahun 2021 dengan berdirinya Yayasan Hano Wene Indonesia, sebuah nama dari bahasa Hubla yang berarti "Kabar Baik," sebuah doa agar literasi menjadi embun penyejuk di tengah minimnya fasilitas sekolah formal.
“Saya ingin anak-anak di kampung punya kesempatan belajar seperti anak-anak di kota," kata Neas Wanimbo, Selasa (30/12/2025).
Ia mengajak beberapa pemuda lokal membuka kelas literasi sore hari. Peralatan yang digunakan sangat sederhana.
Papan tulis kecil, buku-buku sumbangan, dan alat tulis dari donasi. Cara belajarnya disesuaikan dengan apa yang paling dekat dengan kehidupan anak-anak Papua, seperti cerita rakyat, lagu, permainan, dan kegiatan alam.
Minim fasilitas pendidikan
Menurut data BPS tahun 2024, Papua Pegunungan memiliki rata-rata lama sekolah hanya enam tahun dan fasilitas sekolah minim.
Banyak anak bahkan tidak berkesempatan belajar secara konsisten di sekolah formal.
Kala kuliah di Universitas Tanri Abeng Jakarta, Neas mulai mengajak teman-teman kampus berdonasi, membuat kegiatan pengadaan buku-buku, belajar bersama untuk anak-anak di Papua, dan pulang membawa “kabar baik” bagi kampungnya.
Komitmen dan rasa memiliki bersama menjadi fondasinya mendirikan Yayasan Hano Wene Indonesia pada 2021.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/OK-INSPIRATIF-Neas-Wanimbo-sang-pendiri-Yay.jpg)