Senin, 15 Juni 2026

Sosok

Neas Wanimbo, Pemuda yang Menolak Membiarkan Anak Papua Tertinggal

eas Wanimbo berdiri di depan sebuah papan tulis kecil, menatap mata-mata polos yang haus akan ilmu namun terhimpit keterbatasan.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
SOSOK INSPIRATIF - Neas Wanimbo sang pendiri Yayasan Hano Wene bersama anak-anak Kampung Huewi, Distrik Tangma, Papua Pegunungan yang berkumpul untuk belajar membaca. (Organisasi Bekal Pemimpin) 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Di bawah langit Kampung Huewi yang sunyi, suara anak-anak mengeja kata mulai memecah keheningan sore.

Di sana, Neas Wanimbo berdiri di depan sebuah papan tulis kecil, menatap mata-mata polos yang haus akan ilmu namun terhimpit keterbatasan.

Baginya, pendidikan bukan sekadar deretan angka di rapor, melainkan kunci untuk memerdekakan masa depan anak-anak di Distrik Tangma, Papua Pegunungan  yang selama ini sering terlupakan oleh riuhnya kemajuan kota.

Langkah Neas dimulai dari keresahan melihat data BPS yang memotret realita pahit.

Rata-rata sekolah di tanah kelahirannya hanya bertahan enam tahun. 

Baca juga: Kisah Karles Rompas 45 Hari Dihantam Ombak Lautan Manado, Ditemukan Selamat di Perairan Jayapura

Berbekal tekad saat menempuh studi di Jakarta, ia mengetuk pintu hati kawan-kawannya untuk mengumpulkan buku dan donasi. 

Perjuangan itu akhirnya mengkristal pada tahun 2021 dengan berdirinya Yayasan Hano Wene Indonesia, sebuah nama dari bahasa Hubla yang berarti "Kabar Baik," sebuah doa agar literasi menjadi embun penyejuk di tengah minimnya fasilitas sekolah formal.

“Saya ingin anak-anak di kampung punya kesempatan belajar seperti anak-anak di kota," kata Neas Wanimbo, Selasa (30/12/2025).

Ia mengajak beberapa pemuda lokal membuka kelas literasi sore hari. Peralatan yang digunakan sangat sederhana.

Papan tulis kecil, buku-buku sumbangan, dan alat tulis dari donasi. Cara belajarnya disesuaikan dengan apa yang paling dekat dengan kehidupan anak-anak Papua, seperti cerita rakyat, lagu, permainan, dan kegiatan alam.

 Minim fasilitas pendidikan

Menurut data BPS tahun 2024, Papua Pegunungan memiliki rata-rata lama sekolah hanya enam tahun dan fasilitas sekolah minim.

Banyak anak bahkan tidak berkesempatan belajar secara konsisten di sekolah formal.

 Kala kuliah di Universitas Tanri Abeng Jakarta, Neas mulai mengajak teman-teman kampus berdonasi, membuat kegiatan pengadaan buku-buku, belajar bersama untuk anak-anak di Papua, dan pulang membawa “kabar baik” bagi kampungnya.

Komitmen dan rasa memiliki bersama menjadi fondasinya mendirikan Yayasan Hano Wene Indonesia pada 2021.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
Live
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved