Pers Papua
Menjaga Api Jurnalisme dari Timur : Jejak Panjang Kris Ansaka dalam Sejarah Pers Papua
Ia tidak datang membawa pidato panjang. Namun setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti halaman-halaman sejarah yang
Penulis: Yulianus Magai | Editor: Marius Frisson Yewun
Ringkasan Berita:
- Kehadiran Tokoh: Sosok jurnalis senior Kris Ansaka menjadi sorotan dalam Festival Media pertama se-Papua Raya di Nabire.
- Rekam Jejak: Veteran majalah Tempo yang pulang ke Papua pada 1993 untuk merintis harian Cenderawasih Pos.
- Nilai Utama: Menekankan pentingnya jurnalisme yang turun langsung ke lapangan dan berpihak pada kepentingan rakyat.
- Pesan Inti: Mengajak jurnalis muda menjaga integritas serta membudayakan membaca untuk memahami realitas sosial.
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai
TRIBUNPAPUA.COM, NABIRE - Di Nabire, kota yang berada di tengah bentang Tanah Papua, Festival Media atau Fesmed) pertama dan terbesar se-Papua Raya berlangsung selama tiga hari, 13–15 Januari 2026.
Di antara deretan tenda, diskusi, pameran foto, dan layar visual karya jurnalis muda, hadir seorang lelaki dengan langkah tenang dan tatapan yang menyimpan banyak cerita. Namanya Kris Ansaka, tokoh pers senior Papua, saksi hidup perjalanan panjang jurnalisme di Bumi Cenderawasih.
Ia tidak datang membawa pidato panjang. Namun setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa seperti halaman-halaman sejarah yang dibuka kembali. Kris Ansaka adalah bagian dari generasi jurnalis yang tumbuh di masa ketika menulis berita berarti berjalan jauh, menunggu kapal berhari-hari, dan mengirim naskah lewat mesin ketik atau faksimile, teknologi komunikasi yang tidak lagi digunakan, bahkan dilihat oleh jurnalis saat ini.
Baca juga: Sebut Angin Kencang yang Landa Mimika Tergolong Berbahaya, BMKG Mimika Ungkap 2 Faktor Penyebabnya
“Festival ini bukan sekadar perayaan, saya sangat bahagia, seakan akan saya kembali ke masa muda, Ini momentum penting untuk mengingat kembali mengapa pers itu lahir sebagai pilar keempat demokrasi, sebagai suara publik, terutama mereka yang tak terdengar, ” kata Kris disela sela kegiatan festival media.
Karier jurnalistik Kris Ansaka dimulai pada 1987, setahun setelah ia menyelesaikan pendidikan pada 1986. Seperti banyak jurnalis Papua generasi awal, ia tidak langsung bekerja di tanah kelahirannya. Jakarta menjadi ruang belajar pertama keras, kompetitif, dan penuh tuntutan profesionalisme.
Hampir satu dekade ia habiskan di ibu kota Negara Indonesia, bergelut dengan dunia pers nasional. Masa itu, menurut Kris, adalah fase pembentukan karakter. Ia belajar disiplin, etika, dan tanggung jawab seorang wartawan. “Saya anggap itu kewajiban. Wartawan harus ditempa,” ujarnya.
Baca juga: BBPOM Jayapura Sita Ribuan Produk Pangan Tak Layak Edar di Papua
Puncak pembelajaran itu terjadi saat ia bergabung dengan Tempo, media yang dikenal kritis dan berani. Dari Tempo, Kris menjelajah Indonesia dari ujung barat hingga timur. Aceh, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua semuanya pernah ia tapaki dalam tugas jurnalistik.
Ia belajar bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia adalah kampung-kampung kecil, dermaga sepi, hutan, sungai, dan wajah-wajah rakyat yang jarang masuk halaman depan koran nasional.
“Tugas-tugas itu mengajarkan saya satu hal: jurnalisme harus hadir di lapangan, bukan hanya di ruang redaksi,” katanya.
Baca juga: 2 Sekolah di Mimika Dipalang, Ribuan Siswa dan Guru Terlantar di Luar Pagar
Tahun 1993, sebuah panggilan penting datang. Goenawan Mohamad, tokoh pers nasional dan pendiri Tempo, meminta Kris Ansaka pulang ke Papua untuk membantu merintis media baru, Cenderawasih Pos (Cepos) di Jayapura.
Keputusan itu mengubah arah hidupnya. Bersama rekan-rekan, Kris ikut membangun Cepos, di tengah keterbatasan infrastruktur, distribusi, dan sumber daya manusia.
“Kami bekerja dengan keyakinan. Media Papua harus berdiri dengan kaki sendiri,” kenangnya.
Baca juga: TPNPB Ancam Tembak Rombongan Wapres Gibran saat Menuju Yahukimo
Ia masih mengingat jelas tulisan-tulisan awal yang lahir dari realitas Papua. Salah satu judul yang membekas di ingatannya adalah “Masuk Miring, Keluar Miring”, kisah tentang kapal perintis di Jayapura yang selalu oleng baik saat berangkat maupun tiba. Sebuah metafora tentang kehidupan masyarakat Papua kala itu.
Tribun-Papua.com
Pers Papua
Jurnalis Jayapura
jurnalis Papua
Jurnalis Masyarakat Adat
Jurnalis
Jurnalistik
Aliansi Jurnalis Independen
Kris Ansaka
Festival Media (Fesmed) 2026
Nabire
Kabupaten Nabire
Papua Raya
| Manajer Persipura Owen Rahadian Ingatkan Pemain Fokus Tatap Babak Play Off |
|
|---|
| Animo Gila 32 Ribu Lebih Suporter Persipura Bikin Macet Hingga Nobar di Luar Stadion |
|
|---|
| Dua Gol Tanpa Balas ke Gawang Persiku Belum Cukup Antar Persipura ke Liga 1 |
|
|---|
| Akhirnya Persipura Melaju ke Playoff Promosi Usai Taklukan Persiku Kudus 2-0 di Stadion Lukas Enembe |
|
|---|
| Mutiara Hitam Bersinar Usai Bungkam Persiku Kudus 2 Gol Tanpa Balas di Lukas Enembe |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/sadasdasdasjdasldkadljas.jpg)