Perbatasan RI PNG
Warga Papua Nugini Serbu Pasar Perbatasan Skouw untuk Borong Sembako
“Peningkatan jumlah pelintas biasanya terjadi saat hari pasar setiap Selasa dan Sabtu. Pada hari itu warga PNG datang dalam jumlah
Penulis: Taniya Sembiring | Editor: Marius Frisson Yewun
Ringkasan Berita:
- Lonjakan Pelintas: PLBN Skouw mencatat kunjungan sekitar 15 ribu orang pelintas batas antara Indonesia dan Papua Nugini sepanjang Januari hingga Mei 2026.
- Aktivitas Ekonomi: Mayoritas pelintas merupakan warga Papua Nugini yang rutin berbelanja kebutuhan pokok pakaian hingga alat rumah tangga di Pasar Skouw karena harga lebih murah.
- Aturan Khusus: Sebagian besar warga Papua Nugini menggunakan dokumen manifes tradisional sehingga pergerakan mereka dibatasi hanya di area pasar perbatasan saja.
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com,Taniya Sembiring
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, mencatat lonjakan kunjungan lintas batas antara Republik Indonesia dan Papua Nugini (PNG) dengan total sekitar 15 ribu orang selama Januari hingga Mei 2026.
Kepala PLBN Skouw, Ni Luh Puspa Jayaningsih, menyebut mayoritas pelintas adalah warga PNG yang datang untuk memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi.
Mereka rutin berbelanja di pasar perbatasan Skouw, mulai dari bahan pokok, pakaian, hasil pertanian, hingga perlengkapan rumah tangga yang dianggap lebih murah dan mudah diperoleh dibandingkan di negara mereka.
“Peningkatan jumlah pelintas biasanya terjadi saat hari pasar setiap Selasa dan Sabtu. Pada hari itu warga PNG datang dalam jumlah cukup banyak untuk berbelanja,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada Wartawan di Jayapura Senin, (25/5/2026).
Baca juga: Papua Pegunungan Dapat 18 Sapi Kurban dari Presiden, Distribusi ke 3 Kabupaten Dilakukan Lewat Udara
Pasar tradisional lintas negara di Skouw kini berkembang menjadi pusat interaksi ekonomi sekaligus sosial.
Selain transaksi perdagangan, kawasan ini juga menjadi tempat warga kedua negara bertemu keluarga dan melakukan aktivitas sosial.
Sebagian besar warga PNG menggunakan dokumen manifes lintas batas tradisional, bukan paspor.
Karena itu, mereka hanya diperbolehkan beraktivitas di area pasar dan tidak bisa masuk ke pusat Kota Jayapura.
Baca juga: Pemkab Jayawijaya Sukses Rebut Opini WTP Usai Dua Tahun Tertahan WDP
Lonjakan aktivitas membuat pengawasan di PLBN semakin ketat. Imigrasi, Bea Cukai, karantina, dan aparat keamanan menambah personel untuk mencegah penyelundupan barang ilegal maupun pelanggaran aturan keimigrasian.
Meski demikian, pemerintah tetap menjaga agar interaksi ekonomi berjalan lancar. Kawasan Skouw kini bukan hanya pos pemeriksaan, tetapi juga ikon perbatasan Papua yang memadukan bangunan modern dengan aktivitas pasar tradisional lintas negara.
Aktivitas perdagangan lintas batas memberi dampak ekonomi nyata bagi pedagang kecil dan pelaku usaha mikro di Jayapura. Mereka menggantungkan penghasilan dari transaksi dengan warga PNG.
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni Timika-Merauke Juni 2026, Cek Waktu Keberangkatan KM Tatamailau
Ni Luh berharap hubungan sosial dan ekonomi antara masyarakat Indonesia dan Papua Nugini terus terjalin dengan baik.
“Kami berharap aktivitas lintas batas ini memberikan dampak positif bagi masyarakat kedua negara, terutama warga yang tinggal di wilayah perbatasan,” katanya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/plbbbbsmama.jpg)