Kenaikan BBM di Papua
Pertamax Jadi Rp16.650, Warga Papua Khawatirkan Lonjakan Sembako dan Migrasi BBM
Maria (30), seorang warga Sentani, Kabupaten Jayapura, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kenaikan
Penulis: Putri Nurjannah Kurita | Editor: Marius Frisson Yewun
Ringkasan Berita:
- Warga Mengeluh Beban Berat: Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.650 per liter memicu keluhan besar karena sangat membebani biaya operasional harian warga.
- Potensi Antrean Pertalite: Warga khawatir lonjakan harga yang drastis ini akan memaksa pengguna Pertamax beralih ke Pertalite, sehingga memicu antrean panjang di SPBU.
- Fasilitas SPBU Sepi: Pascakenaikan harga yang mendadak ini, area pengisian Pertamax di lapangan terpantau sepi dari aktivitas kendaraan.
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter memicu keluhan besar dari masyarakat di Kabupaten Jayapura dan sekitarnya. Lonjakan harga sebesar Rp4.050 ini dinilai sangat membebani biaya operasional harian warga yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk beraktivitas.
Maria (30), seorang warga Sentani, Kabupaten Jayapura, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kenaikan drastis ini akan memaksa pengguna Pertamax beralih ke Pertalite (BBM bersubsidi). Kondisi tersebut diprediksi akan memicu antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setiap harinya.
Baca juga: Harga Pertamax Naik Rp4.000 per Liter, SPBU di Sentani Papua Sesuaikan Tarif
“Kami sebagai warga pengguna Pertamax sangat terbebani dengan kenaikan harga ini. Memang kita tahu ini pengaruh harga minyak dunia, tetapi pemerintah hendaknya melihat kembali kebijakan kenaikan harga Pertamax ini,” ujar Maria.
Maria menambahkan, lonjakan harga yang mendadak ini sempat membuat warga kaget dan menjadi perbincangan hangat. Berdasarkan pantauannya di lapangan, suasana di area pengisian Pertamax di SPBU justru terlihat sepi pasca-kenaikan harga.
Ia khawatir dampak dari kebijakan ini akan menurunkan mobilitas masyarakat, serta memicu kenaikan harga bahan pokok dan menekan pelaku UMKM.
Baca juga: Wabup Jayawijaya Salurkan Bantuan untuk Pembangunan Masjid H. Aipon Asso di Welesi
Sementara itu, Amin (60), seorang pedagang asal Arso, Kabupaten Keerom. Saat sedang mengisi BBM di SPBU Permindo Sentani Kota, Amin menyayangkan tren harga BBM yang terus melonjak.
Sebagai pedagang, ia mengatakan kenaikan harga bahan bakar akan langsung berdampak pada harga barang dagangan dan kebutuhan pokok.
"Yang jelas, kalau harga BBM naik, harga sembako juga pasti akan ikut naik," kata Amin dengan nada lesu.
Baca juga: Gila Bola! Kafe Komoke Nabire Siap Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Hanum: Target Spanyol Juara Dunia
Amin mengaku kondisi perekonomian saat ini sudah cukup sulit bagi masyarakat dan kenaikan BBM semakin memperparah keadaan. Ia berharap pemerintah bisa segera mengambil tindakan untuk menstabilkan harga.
"Saya harap harganya bisa dikembalikan lagi seperti semula. Ekonomi sekarang sedang setengah mati, sementara penghasilan kami kecil," pungkasnya. (*)
| Harga Pertamax Naik Rp4.000 per Liter, SPBU di Sentani Papua Sesuaikan Tarif |
|
|---|
| Nelayan Kaimana Hanya Pasrah Tanpa Solusi Ketika BBM Terus Mencekik |
|
|---|
| Penderitaan Rakyat Terkait Kenaikan BBM Mulai Dirasakan Sopir di Manokwari |
|
|---|
| Pertamina Papua Maluku Pastikan Stok BBM di 467 SPBU Aman 12 Hari ke Depan |
|
|---|
| Warga Sarmi Tidak Panik Kenaikan BBM Sebab Terbiasa Hidup dengan Stok Terbatas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/kaksakasiir857586.jpg)