Rabu, 13 Mei 2026

BBM subsidi

Minyak Tanah Mahal di Wamena Hingga 25 Ribu Per Liter, Uang Sayur hingga Jajan Anak Ikut Terpangkas

“Kalau beli minyak mahal, uang untuk beli sayur dan jajan anak otomatis dikurangi,” kata Aldi, warga Jalan Irian, Sabtu(9/5/2026).

Tayang: | Diperbarui:
Istimewa
MINYAK TANAH SUBSIDI - Warga Wamana di Jayawijaya harapkan aparat penegak hukum sigap menindak aktivitas penjualan minyak tanah yang semakin naik.(Paguru T) 

Ringkasan Berita:
  • Lonjakan Harga: Harga minyak tanah di pengecer Wamena menembus Rp25.000 – Rp30.000 per liter, jauh di atas harga subsidi resmi.
  • Dampak Ekonomi: Mahalnya bahan bakar memaksa warga memangkas uang belanja sayur hingga jajan anak sekolah demi bisa memasak.
  • Praktik Ilegal: Ditemukan indikasi penyelewengan distribusi melalui tangki kendaraan modifikasi, kupon ganda, dan keterlibatan oknum tertentu.

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Noel Iman Untung Wenda

Harga minyak tanah subsidi yang terus melambung di Wamena kini bukan hanya membebani dapur rumah tangga warga, tetapi juga mulai memangkas uang sayur, kebutuhan harian, hingga jajan anak sekolah.

Di tengah sulitnya ekonomi masyarakat Indonesia, termasuk Papua Pegunungan, banyak keluarga terpaksa mengurangi belanja rumah tangga demi membeli minyak tanah yang harganya bisa mencapai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per liter di tingkat pengecer.

Bagi warga kecil di Wamena, minyak tanah bukan sekadar bahan bakar, tetapi kebutuhan utama untuk memasak dan bertahan hidup sehari-hari.

Karena itu, ketika harga subsidi diduga dimainkan oleh oknum pangkalan dan pengecer, dampaknya langsung terasa di meja makan keluarga.

“Kalau beli minyak mahal, uang untuk beli sayur dan jajan anak otomatis dikurangi,” kata Aldi, warga Jalan Irian, Sabtu, (9/5/2026).

Baca juga: Perang Suku dan Uang Perdamaian: Luka Sosial di Tanah Papua Pegunungan

Keluhan serupa disampaikan Ibu Rina, seorang ibu rumah tangga di Wamena. Ia mengaku kondisi ekonomi keluarganya semakin berat karena harga minyak tanah yang terus naik, sementara kebutuhan rumah tangga lainnya tetap harus dipenuhi.

“Kami terpaksa kurangi uang jajan anak-anak di sekolah, bahkan uang untuk beli sayur juga dipakai beli minyak tanah. Kalau harga minyak tanah dijual sesuai harga subsidi tentu sangat membantu ekonomi keluarga kami,” ujar Ibu Rina dengan wajah sedih.

Menurutnya, dalam satu rumah tangga, minyak tanah menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari karena sebagian besar warga masih menggunakannya untuk memasak setiap hari.

Keluhan serupa juga datang dari warga di Jalan Thamrin dan kawasan Jalan Sanger. Sebagian warga mengaku hanya mendapat lima liter minyak tanah setiap bulan, bahkan ada yang sudah hampir satu tahun tidak lagi menerima jatah subsidi dari pangkalan resmi.

Baca juga: TSE Group Merajut Karakter Generasi Papua di Momentum Hardiknas

Di sisi lain, minyak tanah justru banyak dijual bebas di pinggir jalan pusat Kota Jayawijaya dengan harga yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya permainan distribusi BBM subsidi di wilayah Papua Pegunungan.

Sales Branch Manager Andre Hauzan mengatakan pihaknya bersama Dinas Perhubungan Kabupaten Jayawijaya menemukan sejumlah praktik kecurangan dalam penyaluran BBM, seperti penggunaan tangki modifikasi dan kupon ganda di beberapa APMS, terutama di kawasan Lasminingsih.

“Untuk saat ini kendaraan dengan tangki modifikasi tidak dapat melakukan pengisian bahan bakar. Kami harap masyarakat yang melihat adanya kecurangan segera melapor ke kami atau langsung ke call center 135,” ujar Andre, Jumat (8/5/2026).

Baca juga: Buntut Kericuhan di Stadion Lukas Enembe, Presiden Prabowo Diminta Evaluasi Ketua Umum PSSI

Menurutnya, pengawasan rutin akan terus dilakukan bersama pemerintah daerah agar BBM subsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Jayawijaya, Basni, mengungkapkan bahwa dalam pengawasan terbaru ditemukan dua kendaraan dengan tangki modifikasi, setelah sebelumnya juga ditemukan satu kasus serupa.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved