Pasca-Serangan Drone ke Pabrik Minyak Saudi Aramco, Harga Minyak Bisa Tembus 100 Dolar AS per Barel?
Terpangkasnya produksi minyak di Arab Saudi akibat serangan drone, dinilai tak mampu menahan harga minyak berada di level tinggi untuk waktu yang lama
TRIBUNPAPUA.COM - Terpangkasnya produksi minyak di Arab Saudi akibat serangan drone, dinilai tak mampu menahan harga minyak berada di level tinggi untuk waktu yang lama.
Bahkan, muncul kecurigaan bahwa kecelakaan di kilang minyak Aramco memiliki unsur geopolitik untuk menjaga harga minyak tak jatuh terlalu dalam.
Diketahui, pada Sabtu (14/9/2019) kilang minyak Saudi Aramco diserang 10 drone.
• Kondisi di Jayapura Mulai Kondusif, Pertamina Kembali Salurkan BBM Dikawal Tentara
Akibatnya, dua kilang minyak terbakar dan menyebabkan produksi minyak di Arab Saudi anjlok 5,7 juta barel per hari atau sekitar 50 persen dari total produksi Negeri Raja Minyak tersebut.
"Geopolitical event Aramco ini bisa memicu harga naik tembus 60 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, di jangka pendek. Tapi enggak akan lama, harga akan masuk lagi ke area 50 dolar AS per barel hingga 60 dolar AS per barel untuk jangka menengah," ungkap Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono kepada Kontan.co.id, Minggu (15/9/2019).
Wahyu tak menampik bahwa terbakarnya kilang di Saudi Aramco bakal memberikan dampak, apalagi jika berkaitan dengan Saudi.
• Sempat Diisukan Milik Singapura, Terungkap Siapa Saja Pemegang Saham Gojek
Arab Saudi memiliki major solo produser, Aramco, dengan wilayah kilang dan jalur transportasi terpusat.
Kondisi tersebut rentan terhadap ancaman dan gangguan produksi, baik teknikal maupun geopolitik oleh teroris atau perang negara lain.
Lain halnya dengan AS dan Rusia yang sama-sama produsen raksasa minyak.
Mereka memiliki perusahaan yang relatif jamak dengan area kilang dan jalur transportasi beragam.
Dari sisi harga, Wahyu menilai kenaikan harga 10 dolar AS per barel masih wajar sebagai dampak dari terbakarnya kilang Aramco.
• Ada 11 Perusahaan Indonesia di Daftar 200 Perusahaan Terbaik Asia Pasifik Versi Forbes, Apa Saja?
Tentunya, dengan asumsi akan segera ada recovery dari produsen kilang minyak tersebut.
Namun, jika kondisi berlarut maka ada potensi bagi harga minyak naik 10 dolar AS per barel hingga 20 dolar AS per barel.
Bahkan, bukan tidak mungkin untuk harga minyak dunia menyentuh level 100 dolar AS per barel, sebagai skenario terburuk.
"Tapi ada kecurigaan ini permainan harga saat formal policy sudah tak mampu menekan harga. Aksi koboi ini dijalankan untuk keuntungan, bukan hanya politik tapi juga ekonomi," tegasnya.
Hanya saja, secara keseluruhan Wahyu optimistis dampak terbakarnya kilang minyak hanya bersifat sementara.
• Kisah Heroik Legenda Persipura dan Manajer SPBU Berhasil Selamatkan SPBU yang Hendak Dibakar Massa
Menurutnya, sentimen fundamental seperti supply dan demand masih menjadi penggerak utama harga minyak.
Sementara itu, belum adanya kejelasan dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk pemangkasan produksi membuat volume produksi minyak dunia terus bertumbuh.
Menurutnya, sikap OPEC yang tidak tegas menentukan pemangkasan produksi, dinilai karena tidak ingin kehilangan pangsa pasarnya.
Apalagi selain dari produksi OPEC, suplai minyak dari AS masih bisa bertambah.
Ini didukung prediksi EIA bahwa produksi minyak AS bakan naik sebesar satu juta barel per hari di tahun depan.
• Sempat Diragukan, Pendekatan Ajaib Habibie Berhasil Mengangkat Ekonomi Indonesia saat Krisis 1998
Untuk itu, Wahyu menilai hal yang wajar jika harga minyak sulit untuk naik.
Secara tidak langsung, baik OPEC maupun AS sama-sama melakukan kompetisi untuk menguasai pasar minyak dunia.
Di sisi lain, suplai masih sulit dibendung sedangkan permintaan sulit untuk diangkat.
Dengan kejadian kilang minyak Aramco, Wahyu merekomendasikan buy on weakness saat harga mendekati level 50 dolar AS per barel.
Untuk sepekan, pergerakan harga minyak diprediksi berada di kisaran 52 dolar AS per barel hingga 65 dolar AS per barel, dengan prediksi akhir tahun 55 dolar AS per barel.
• Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Papua dan Papua Barat Negatif di Kuartal II-2019
Untuk perdagangan Senin (16/9/2019) harga minyak diperkirakan bergerak pada kisaran support 54,50 dolar AS per barel, 54 dolar AS per barel dan 53,50 dolar AS per barel.
Sedangkan untuk level resistance berada di kisaran 58 dolar AS per barel, 59 dolar AS per barel dan 60 dolar AS per barel.
"Harga kemungkinan masih akan naik, direkomendasikan buy temporary di jangka pendek. Tapi tidak direkomendasikan buy di atas 60 dolar AS per barel, lebih baik antisipasi sell in strength di atas 60 dolar AS per barel," tandasnya.
(Kontan/Intan Nirmala Sari)
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Skema terburuk, harga minyak bisa ke US$ 100 per barel
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/ilustrasi-kilang-minyak.jpg)