Kamis, 30 April 2026

Virus Corona

Seorang Pria Dipaksa Dikarantina di Pondok Reyot di Kebun: Tidur Pakai Bambu, Tidak Ada Listrik

Seorang pria bernama M Maman diminta untuk melakukan karantina di sebuah kebun oleh pemerintah daerah dan setempat.

Tayang:
(Dokumen Maman)
Foto : Maman, seorang warga Desa Tuabao, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT, menjalani karantina di pondok reyot. 

TRIBUNPAPUA.COM - Seorang pria bernama M Maman, warga Desa Tuabao, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, NTT, diminta untuk melakukan karantina di sebuah kebun oleh pemerintah daerah dan  setempat. 

Warga khawatir Maman masih membawa Virus Corona, setelah pria ini keluar dari SCC Maumere, Jumat (24/4/2020).

Di SCC, Maman juga menjalankan karantina setelah pulang dari Samarinda, Kalimantan Timur. 

Maman diminta untuk menjalankan karantina di kebun.

Di sana ia tinggal di gubuk reyot beratap daun lontar dan tempat tidur beralaskan belahan bambu langsung tikar. 

Di pondok reyot itu, ia hidup hanya mengandalkan pelita ketika malam. 

Maman menceritakan, dia didatangi Camat Waiblama dan warga Desa Tuabao, Jumat (22/4/2020), atau setibanya di desa.

Ketua Satgas Covis-19 Ungkap Kasus Corona di DKI Jakarta Turun: Hasil Pelaksanaan PSBB

Maman kemudian diminta untuk melakukan karantina di kebun. 

Awalnya Maman minta untuk dikarantina di rumah orangtuanya.

Namun, pemerintah desa tetap memintanya menjalani karantina di kebun karena khawatir pria ini terjangkit Virus Corona.

Lokasi kebun letaknya cukup jauh dari permukiman warga. 

"Pagi saya tiba di desa. Pas tiba, langsung disuruh karantina mandiri di kebun. Di kebun ini, saya tinggal di pondok reyot. Tenda tidur saya pakai belahan bambu. Pondok reyot ini tidak ada listrik. Malam saya pakai pelita," ujar Maman kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin (27/4/2020). 

Maman menjelaskan, kondisi pondok tempat ia karantina sangat tidak layak dihuni.

Lubang menganga di mana-mana, karena hanya ditutupi daun lontar. Di pondok itu juga tidak ada air minum untuk cuci tangan dan mandi.

Untuk makan, setiap hari warga mengantarkan makanan ke pondok itu.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved