Virus Corona
Ada Pasien Covid-19 Menginfeksi Banyak Orang dan Ada yang Tidak, Peneliti Beri Penjelasan
Virus Corona bisa menular dengan sangat cepat. Bermula dari satu orang yang terinfeksi, kemudian menyebar ke orang-orang yang ada di sekitarnya.
Dalam ilmu epidemiologi, penularan itu diukur menggunakan sesuatu yang dikenal sebagai angka reproduksi. Tanpa pembatasan sosial, angka reproduksi Covid-19 diperkirakan berkisar tiga.
Namun, dalam kehidupan nyata, beberapa orang menginfeksi sejumlah orang, sedangkan yang lain tidak menyebarkan penyakit sama sekali.
Itulah sebabnya, selain reproduksi, para peneliti juga menggunakan nilai yang disebut faktor dispersi untuk menggambarkan berapa banyak klaster penyakit.
Semakin rendah tingkat dispersi, maka menunjukkan semakin banyak penularan yang berasal dari sejumlah kecil orang.
• Kades Hikong Tutup Akses Jalan Trans Flores: Mereka Sebut Warga Sikka Orang Covid-19
Dalam jurnal Nature yang terbit tahun 2005, Jamie Lloyd-Smith dan rekan peneliti lainnya dari Universitas California memperkirakan SARS memiliki tingkat dispersi 0,16. Ini menunjukkan superspreading memainkan peran utama dalam proses penyebaran virus.
Tingkat dispersi MERS diperkirakan 0,25. Sementara untuk Covid-19 masih bervariasi penghitungannya.
Pada Januari 2020, Julien Riou dan Christian Althaus dari Universitas Bern di Swiss melalui penelitiannya menyimpulkan bahwa tingkat dispersi untuk Covid-19 agak lebih tinggi daripada SARS dan MERS.
"Saya kira ini (Covid-19) tidak seperti SARS atau MERS, di mana kita mengamati adanya klaster superspreading yang sangat besar. Meski demikian, (pada kasus Covid-19) kita tetap melihat ada banyak kelompok penularan yang disebabkan oleh sebagian kecil orang," kata Gabriel Leung, seorang modeler dari Universitas Hong Kong.
Kendati demikian, dalam penelitian terbaru yang dilakukan Adam Kucharski dari LSHTM memperkirakan tingkat dispersi Covid-19 sebesar 0,1. Artinya lebih rendah dari SARS dan MERS.
"Mungkin sekitar 10 persen kasus (Covid-19) mengarah ke 80 persen dari penyebaran," ungkap Kucharski.
Hal tersebut mungkin bisa sekaligus menjelaskan beberapa aspek yang membingungkan dari pandemi ini. Seperti mengapa virus tidak menyebar dengan sangat cepat ke seluruh dunia usai pertama kali muncul di Wuhan, China yang diperkirakan dimulai pada 17 November 2019 lalu.
Juga terkait adanya beberapa kasus pasien positif Covid-19 di tempat lain yang ternyata terjadi lebih awal dari perkiraan, tapi tidak memicu wabah yang lebih luas.
Ini seperti yang terjadi di Perancis, di mana diketahui kasus pertama ternyata terjadi pada 27 Desember 2019, lebih awal dari perkiraan kasus pertama yang terjadi pada 24 Januari 2020.
Jadi jika tingkat dispersi Covid-19 benar-benar 0,1, itu artinya sebagian besar rantai infeksi mati dengan sendirinya.
Ibaratnya, jika wabah di China merupakan api besar yang membuat percikan api beterbangan ke seluruh dunia, maka sebagian besar percikan api itu telah hilang begitu saja.
• Adiknya Positif Corona, Via Vallen Curhat Rumahnya Didatangi Petugas Puskesmas, Satpol PP dan Polisi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/dinas-kesehatan-kota-bogor-melakukan-swab-test-covid-19.jpg)