Breaking News:

Mengintip Kehidupan Isolasi di Wisma Atlet, Cara Pasien Order Makanan hingga Tangisan

Setelah melakukan perjalanan dinas ke Bali, TB Ardi Januar melakukan tes swab.

(Dok FACEBOOK/TB ARDI JANUAR)
TB Ardi Januar selama di Wisma Atlet untuk melawan Covid-19. 

Selama 20 hari di Wisma Atlet, Tebe kerap kangen dengan ketiga anaknya yang dijaga Ibunya. Menahan kerinduan itu cukup menyiksa baginya.

Namun, hal itu ternyata tidak sebanding dengan perjuangan para tenaga kesehatan (nakes).

Sejak pandemi corona melanda Indonesia dan Wisma Atlet dibuka beberapa bulan lalu, para tenaga medis belum pernah pulang.

“Gue pikir, setelah kerja mereka pulang ke rumah bertemu keluarga. Ternyata mereka enggak pulang. Beres kerja, mereka ke tower sebelah untuk karantina. Selama berbulan-bulan mereka jauh dari keluarga,” tutur dia.

Ketika Tebe hanya mengenakan masker, para nakes ini harus mengenakan APD lengkap menutupi tubuh selama sekitar 8 jam.

Mereka tak bisa makan, tak bisa minum, tak bisa buang air kecil dan buang air besar.

Bahkan, beberapa dari mereka terpaksa harus pakai popok dewasa, karena khawatir kebelet pipis ataupun buang air besar.

“Rasa gerah sudah pasti mereka hadapi. Coba bayangkan itu,” kata Tebe.

Suatu pagi, ada seorang tenaga medis datang berkabar dan bercerita sambil menangis. Dia pamit harus pulang ke kampung halaman karena istrinya sedang kritis.

Biasanya, orang tersebut yang menyemangati Tebe dan istrinya untuk menang melawan Covid-19. Namun, saat itu justru Tebe dan istrinya yang mencoba menghibur nakes tersebut.

Kabar yang ia peroleh, istri dari nakes tersebut berhasil melewati masa kritisnya.

“Ada juga tenaga medis yang berubah menjadi pasien, karena terpapar virus Covid-19 yang sangat bengis. Sungguh miris,” tutur Tebe.

Berusia di Bawah Umur, 4 Pelaku yang Juga Hampir Tipu Kaesang Putra Jokowi Hasilkan Rp 100 Juta

Selama 20 hari berada di Kemayoran, ia mengaku mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman. Ia tak pernah berhenti mengucapkan rasa terima kasih kepada petugas medis.

Tebe meyakini, para tenaga medis adalah orang-orang hebat dan pilihan. Mereka meninggalkan keluarga berbulan-bulan demi merawat pasien Covid-19.

Tebe mengatakan, mereka tidak hanya berjasa di mata insan, tetapi juga mulia di mata Tuhan.

Selama di Wisma Atlet, Tebe mendapat kabar duka. Sopirnya yang juga positif Covid-19 meninggal dunia karena memiliki penyakit bawaan.

“Ia orang yang soleh. Bahkan di mobil yang dinyalakan adalah murotal. Ia tidak pernah mengeluh sakit apapun, makanya gue kaget ketika mengetahui dia punya penyakit,” tutur Tebe.

Kini, Tebe dan istri sudah dinyatakan negatif Covid-19 dan bisa berkumpul dengan keluarganya.

“Anggap saja ini cobaan dan ajang seleksi pertemanan. Berbahagialah kalian karena sudah menjadi orang-orang pilihan yang derajatnya akan dinaikan,” ucap dia.

Ia pun berpesan, Covid-19 bukanlah cacar, yang sekali kena tidak akan terkena lagi.

Untuk itu, ia mengingatkan agar semua menjaga imunitas dengan memerhatikan fisik maupun psikis.

(Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Melihat Kehidupan Isolasi di Wisma Atlet, dari Order Makanan hingga Tangisan "

Editor: Roifah Dzatu Azmah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved