SOSOK
Cerita Lucu Anak Papua Makan Pinang Sejak Kelas 1 SD
Andika berkelakar, ibunya pernah berkata kalau anak Papua harus makan pinang agar punya gigi yang kuat.
Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Paul Manahara Tambunan
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Pinang sebagai cemilan orang Papua yang biasa dikonsumsi bersama buah sirih, sudah menjadi budaya dari lintas generasi.
Lantas bagaimana seorang anak Papua mengenal buah pinang, dan kesan pertama ketika mencobanya, hingga terbiasa?
Penelusuran Tribun-Papua.com di Kampung Abar Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura, Rabu (14/7/2021), tiga orang anak mengungkapkan kesannya terhadap buah pinang.
Deki Wameni (9) mengatakan dirinya mencoba buah pinang ketika masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar.
Awalnya ia ragu untuk mengkonsumsi pinang, sebab kerap kali melihat orang tuanya mengeluaran cairan berwarna merah dari mulut, setelah mengunyah buah itu.
Baca juga: Jalan-jalan ke Kampung Abar Jayapura, Penghasil Gerabah di Papua
Baca juga: Kampung Abar di Jayapura Gunakan Listrik Perusahaan Jerman, Minta PLN Hadir
"Saya pikir awalnya cairan itu darah," ucapnya, polos.
Namun ketika ia memberanikan diri untuk mencobanya, dirinya mengaku pusing, tetapi tetap melanjutkan mengunyah buah itu.
Seiring berjalannya waktu, buah pinang menjadi hal yang biasa baginya.
Deki rutin mengunyah dua buah pinang setiap harinya.
"Setiap hari, paling sedikit itu dua buah, tidak kurang dari itu," katanya.
Rekan Deki, Andika Doyapo (12) mengaku mulai rutin mengkonsumsi buah pinang sejak usia enam tahun.
"Awalnya mama yang ajarin makan pinang," ujarnya tersipu malu.
Andika berkelakar, ibunya pernah berkata kalau anak Papua harus makan pinang agar punya gigi yang kuat.
Saat ditanya konsumsi pinang berapa buah sehari, Andika menjawab kadang tiga hingga lima buah yang bisa ia habiskan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/14072021-makan-pinang.jpg)