KKB Papua

Polisi Grebek Kampung Sasawa, Komnas HAM Papua: Itu Berlebihan, Harus Kedepankan Intelijen

“Saya ingatkan Kapolres Yapen untuk kedepankan Satuan Intelijen dan Bimnas untuk turun lebih dahulu demi menjaga situasi,” kata Frits Ramandey.

Penulis: Arni Hisage | Editor: Roy Ratumakin
Istimewa
Situasi di kamp pengungsian. 

Laporan Wartawan Tribun Papua.com, Tyo Effendy

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Komnas HAM menilai proses penggerebekan yang dilakukan aparat kepolisian di Kampung Sasawa berlebihan yang mengakibatkan masyarakat sipil trauma hingga lari kedalam hutan.

Hal tersebut dilontarkan Kepala Perwakilan Komnas HAM perwakilan Papua dan Papua Barat Frits Ramandey pada Tribun-Papua.com, Jumat (20/8/2021) pagi.

“Saya ingatkan Kapolres Yapen untuk kedepankan Satuan Intelijen dan Bimnas untuk turun lebih dahulu demi menjaga situasi,” kata Frits Ramandey.

Baca juga: Pengejaran KKB Pimpinan Fernando Worabai Terus Dilakukan, Kapolres Yapen: Kita Lakukan Pendalaman

Ia melanjutkan perlunya Kapolres Yapen untuk sesegera mungkin memberikan jaminan keamanan bagi masrayakat di Kampung Sasawa.

Pascapenggerebekan markas KKB dibawa pimpinan Fernando Worabai, masyarakat Kampung Sasawa membutuhkan jaminan keamanan serta pemulihan trauma atas kejadian tersebut.

 “Saya terjun langsung kesana melihat situasi yang terjadi dari kamp pengungsian, sekitar 12 kamp yang terisi dari 215 jiwa penduduk takut untuk kembali ke kampung,” kata Frits Ramandey.

Ia mengatakan para pengungsi takut untuk kembali sebab masih teringat kejadian yang terjadi kampung Sasawa yang berada di Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua tersebut.

“Saya bertanya pada anak-anak dipengungsian, mereka berkata lari ke hutan karena takut dengar suara tembakan dari kepolisian,” lanjut Frits Ramandey.

Baca juga: KKB Fernando Worabai Masuk DPO, Polres Kepulauan Yapen: Kami Tak Mau Kecolongan Jelang 17 Agustus

Pria asal Waropen tersebut melanjutkan hal tersebut tentunya berpotensi melanggar hak asasi manusia, akibat kelalaian dari aparat kepolisian serta pemerintah daerah.

“Selama lebih dari seminggu warga dipengungsian yang tidak layak ditengah hutan, tak ada perhatian pemerintah dan lembaga lainnya untuk masyarakat Papua tersebut,” papar Kepala Perwakilan Komnas HAM perwakilan Papua dan Papua Barat

Ia mengatakan saat ini warga mulai berangsur kembali ke Kampung Sasawa untuk mengecek kebunnya, bahkan mulai memasang bendera merah putih sebagai bentuk perayaan hari kemerdekaan Indonesia disana. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved