Budaya Papua
2.500 Ekor Babi di Papua Dimasak Secara Adat dan Masuk Rekor MURI
Dengan pemberian rekor MURI, Awan berharap dapat meningkatkan kecintaan warga Papua terutama generasi muda terhadap budaya dan tradisinya.
Penulis: Hendrik Rikarsyo Rewapatara | Editor: Paul Manahara Tambunan
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Hendrik R Rewapatara
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Konferensi Sinode KINGMI ke-XI di Kabupaten Mimika, Papua, mendapat penghargaan sekaligus tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Pasalnya, dalam kegiatan yang berlangsung selama seminggu itu, ada sebanyak 2.500 ekor babi yang disajikan dan dimasak dengan prosesi adat Papua atau dikenal Bakar Batu.
Senior Manager MURI, Awan Rahargo, disela-sela penutupan konferensi KINGMI mengatakan prosesi bakar batu dengan 2.500 ekor babi dalam kegiatan ini merupakan suatu pencapaian rekor.
“MURI sudah mencatat dalam buku rekor yaitu tradisi bakar batu dengan hewan ternak terbanyak," katanya saat dihubungi Tribun-Papua.com, Senin (8/11/2021).
Baca juga: Kasus Penikaman Istri Oleh Bupati Dogiyai Papua Masih Diproses Polisi
Kata dia, rekor tersebut tidak serta merta diberikan begitu saja.
"Selama 6 hari pelaksanaan konferensi, ternyata bakar batu melibatkan 2.500 ekor, ini jumlah yang sangat fantastis, telah memecahkan rekor,” tambahnya.
Dengan pemberian rekor MURI, Awan berharap dapat meningkatkan kecintaan warga Papua terutama generasi muda terhadap budaya dan tradisinya.
Sebab tradisi dan budaya ini merupakan kekayaan Indonesia secara umum, yang bisa dipertahankan turun temurun.
Baca juga: Keluarga Minta Meninggalnya Tokoh Papua Theys Eluay Jangan Dijadikan Komoditas Politik
”Bakar batu adalah salah satu tradisi di Papua bahkan sebuah ritual untuk kebersamaan, ritual kegembiraan, silaturhami sesama masyarakat di Papua dan kami telah mencatat di buku rekor MURI ,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Konfresi sinode KINGMI KE-XI, Willem Wandik mengatakan kegiatan Konfrensi KINGMI memiliki nilai tersendiri bagi jemaat.
"Bagi warga KINGMI terutama wilayah Pegunungan Tengah, pesta adat bakar batu, menjadi bagian penting dalam kegiatan konfrensi ini, sehingga warga membawa babi mereka untuk disumbang secara sukarela," jelasnya.
Baca juga: Apolo Belau Korban Tembak di Intan Jaya Bukan OPM, Arnold: Dia Itu Warga Sipil
Tradisi bakar batu menandakan wujud ucap syukur kepada Tuhan atas penyerataanNya dalam gereja, maupun kehidupan mereka.
Kata willem, pihakya bersyukur pelaksanan konferensi sudah berlangsung aman, damai dan sukses.
"Banyak orang memprediksi bahwa kegiatan ini akan kacau namun atas Penyerataan Tuhan, kegiatan berjalan sukses. Kegiatan konfrensi telah sukses dan lancar,Ini mendatangkan bahwa ada kebangkitan gereja KINGMI ke depan,” ungkapnya.
Diketahui, Konferensi Sinode KINGMI ke-XI melahirkan sejumlah keputusan penting dalam rangka perkembangan pelayanan Gereja KINGMI di Tanah Papua 5 tahun ke depan.
Pendeta Telas Mom terpilih sebagai ketua Sinode 2021 hingga 2026. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/sebanyak-2500-ekor-babi-disajikan.jpg)