Kamis, 16 April 2026

Papua Terkini

Melalui KPH, Masyarakat di Boven Digoel Didorong untuk Maksimalkan HHBK

masyarakat Kabupaten Boven Digoel didorong untuk dapat memaksimalkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Penulis: Aldi Bimantara | Editor: Ri
tangkapan layar zoom
Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Boven Digoel, mendorong masyarakat untuk memaksimalkan potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), Selasa (23/11/2021). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Aldi Bimantara 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Melalui perantara Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang telah dibentuk, masyarakat Kabupaten Boven Digoel didorong untuk dapat memaksimalkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Hal itu disampaikan Kepala KPH Kabupaten Boven Digoel John F Moesieri, dalam Webinar Eco Nusa, Mace bertajuk pengelolaan HHBK oleh masyarakat hutan lestari, Selasa (23/11/2021). 

"Saya pikir statement dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurabaya, yang mengatakan, masyarakat harus sejahtera dulu, baru hutan lestari dapat terwujud dengan adanya KPH," jelasnya.

Baca juga: Tendius Gwijangge Otak Penyerangan Pos Koramil di Papua dan berikut Jumlah Korban Tewas di Tangannya

Menurutnya, melalui KPH pemerintah telah memberikan pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten Boven Digoel, terutama yang di kampung-kampung.

"Kabupaten Boven Digoel merupakan daerah peralihan, antara daerah dataran tinggi dan dataran rendah di wilayah selatan," sebutnya.

Ia menyebutkan, menurut riset terakhir, hugan di Boven Digoel memiliki komponen suhu yang sangat jelas, dan itu berdampak pada potensi hutan yang besar. 

Baca juga: Presiden Jokowi Murka terhadap OPM: Sikat Kelompok Ini, Mereka Tidak Punya Tempat di Republik Ini

"Khusus untuk urusan kayu, pemerintah telah mempercayakan pengelolaanya kepada investor," katanya. 

Dirinya mengatakan, KPH hadir untuk menolong masyarakat, untuk memberikan pemberdayaan untuk mengelola HHBK. 

"Saat ini kami sudah punya 12 kelompk tani hutan, di bawah bimbingan KPH Boven Digoel," sebutnya. 

John menyebutkan, KPH Boven Digoel sudah ada sejak 2018 lalu. 

"Saya sampaikan bahwa di Boven Digoel dari tahun 2020 sampai 2021, kami sudah punya 3 produk, yakni produk abon ikan mujair, abon ikan gabus, dan minyak kayu lawang," sebut John dengan rinci.

Pihaknya bersama masyarakat juga telah memproduksi Men, yakni kantong atau Noken yang dianyam dari kulit kayu Melinjo 

"Kita berharap melalui kegiatan ini, dapat memberikan manfaat, terutama meningkatkan kesejahteraan masyarakat," harapnya.

Baca juga: Stok Vaksin Rutin Kosong, Anak-anak di Papua Barat Terancam

Pihaknya bahkan menargetkan mama-mama di kampung, dapat menerima program ini, dan mampu mengelola potensi yang mereka punya secara mandiri terlebih dahulu. 

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved