Kamis, 21 Mei 2026

Papua Barat Terkini

2 Bulan Raja Ampat Krisis BBM, Pemda Didesak Ambil Langkah Cepat

Menurut mahasiswa, pemerintah dan polisi jangan diam di tengah situasi krisis BBM yang dialami masyarakat.

Tayang:
Istimewa
Suasana ketika masyarakat di Waigeo Utara, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, menggelar aksi di depan Kantor Distrik. 

TRIBUN-PAPUA.COM, SORONG - Himpunan Mahasiswa Raja Ampat (HIMARAJA) Jabodetabek mendesak pemerintah daerah mengambil langkah cepat dalam mengatasi krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayahnya.

Hal ini menyusul krisis BBM selama dua bulan di Distrik Waigeo Utara, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Ketua HIMARAJA Jabodetabek Husen Umkabu (29) mengatakan, pemerintah daerah harus bisa memperhatikan hal tersebut.

"Jangan biarkan masyarakat di Waigeo Utara, menderita terus menerus," kata Husen Umkabu kepada TribunPapuaBarat.com, Selasa (7/12/2021).

Apalagi, kata dia, di tengah kondisi kesulitan mendapatkan stok BBM, masyarakat di Waigeo Utara sedang menghadapi Natal dan Tahun Baru.

Baca juga: Atasi Gangguan KKB, Tokoh Muda Papua: Pemda Harus Berperan Aktif

Ia meminta, agar persoalan krisis BBM harus segera diusut tuntas.

"Siapapun orangnya yang ada dibalik mafia BBM di Waigeo Utara, harus diungkap dan ditangkap. Tidak boleh biarkan masyarakat menderita begitu saja,"ujarnya.

"Mereka sangat membutuhkan BBM untuk mencari nafkah dan menyiapkan diri menjelang Natal. BBM adalah kebutuhan dasar bagi masyarakat," katanya.

Menurut dia, pemerintah dan polisi jangan diam di tengah situasi krisis BBM yang dialami masyarakat.

Baca juga: VIRAL Video Rasis Olvah Alhamid Terhadap Etnis Tionghoa, Ini Klarifikasi Finalis Puteri Indonesia

"Jika tidak ada respon, maka kami mahasiswa Raja Ampat, Papua Barat, akan turun melakukan gerakan untuk mendorong persoalan ini," tekannya.

Sebab, kelangkaan BBM hingga masyarakat Waigeo Utara turun ke jalan berteriak, itu bukan hal yang harus dianggap sepele.

Kondisi yang dialami masyarakat saat ini, merupakan bagian dari tanggungjawab pemerintah daerah.

"Saat ini kami hanya ingin melihat bagaimana respon pemerintah dalam memberikan solusi, jika tidak maka mahasiswa Raja Ampat akan membuat gerakan," katanya.

Baca juga: Kisah Nicholas Messet, Eks Pendiri OPM Kembali ke Indonesia Setelah Sadar Ditipu Belanda

Jika tidak ada respon pemerintah, kata dia, maka semua jalan akan ditempuh oleh mahasiswa Raja Ampat, guna menjawab kondisi yang dialami oleh masyarakat di Waigeo Utara.

"Kami akan melakukan gerakan dengan cara apapun, untuk segera menuntaskan persoalan yang sedang dialami oleh masyarakat di Waigeo Utara,"ujarnya.

Sebelumnya, Salah satu warga Raja Ampat Yakobus Umpes (30) mengatakan, aksi yang dilakukan oleh masyarakat di Kabare Waigeo Utara, merupakan luapan dari kekecewaan mereka.

"Untuk Waigeo Utara, mulai dari Pertalite, Premium hingga minyak tanah, sudah kosong dua bulan ini," kata Yakobus Umpes, saat dihubungi TribunPapuaBarat.com, Senin (6/12/2021).

Baca juga: Ibu Muda Mengaku Dirudapaksa 4 Teman Suami, Terduga Pelaku Malah Lapor Balik Korban

Sebagai anak dari Waigeo Utara, ikut prihatin ketika melihat kondisi masyarakat di sana mengalami kesulitan BBM.

Ia mengatakan, saat ini tiga Distrik di Raja Ampat seperti Wawarbomi, Waigeo Utara, dan Distrik Supnin hanya dilayani oleh satu Agen yang berada di Kabare.

"Informasi terakhir, untuk di distrik-distrik ini BBM-nya tidak sampai,"ujarnya.

Hal tersebut yang menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat di wilayah tersebut, terkait dengan kekosongan stok BBM selama dua bulan ini.

"Sebagai anak asli Raja Ampat, jujur saya merasa sangat kecewa dengan kondisi yang di alami oleh masyarakat,"katanya.

"Sampai rakyat di Waigeo Utara, gelar aksi dengan membawa alat masak dan jerigen, hingga perempuan berteriak histeris. Artinya kondisinya sudah sangat memprihatikan," ujarnya.

Baca juga: 109 Koruptor Ditangkap KPK Tahun Ini, Rp 46,5 Triliun Kerugian Negara Diselamatkan

Tidur di atas Emas Tapi Sengsara

Tak hanya itu, dia menyebutkan, sebagai orang Papua dan Raja Ampat, merasa sedih melihat masyarakat berteriak seperti ini.

"Padahal, kita tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tapi masyarakat masih menjerit seperti ini,"ujarnya.

"Kami di Raja Ampat punya kekayaan, emas, minyak segala macam hingga alam pun terkenal di mancanegara, namun masih saja berteriak kesulitan BBM," katanya.

Artinya, dibalik kekayaan alam Raja Ampat, Papua Barat, masyarakatnya masih tertinggal dan belum merasakan keadilan sosial itu sendiri.

Baca juga: Atasi Kemiskinan Ekstrem, Direktur PPDK Terjun ke Papua Barat

Untuk itu, menurut dia, pihaknya ingin melihat respon pemerintah dalam menyikapi kondisi yang sedang dialami masyarakatnya.

Selain itu, dia meminta agar pihak terkait pun bisa mengusut para mafia BBM, yang berujung pada aksi di Waigeo Utara. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved