Jumat, 24 April 2026

HIV dan AIDS

[BAGIAN KEEMPAT] Penanganan HIV 'Terbengkalai'

Bruder Agustinus Adil, yang mengabdi di Rumah Sakit Dian Harapan mengungkap setiap bulan ada sekitar 15-20 pasien baru HIV yang dirawat di rumah sakit

Editor: Roy Ratumakin
GETTY IMAGES
ILUSTRASI - Sekitar 60% kasus HIV yang dilaporkan di Papua adalah perempuan, sedangkan jumlah perempuan yang terpapar HIV positif secara nasional hanya 37%. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Bruder Agustinus Adil, yang mengabdi di Rumah Sakit Dian Harapan mengungkap setiap bulan ada sekitar 15-20 pasien baru HIV yang dirawat di rumah sakit tersebut.

Ia menjelaskan sebelum menjalani perawatan medis, mereka yang dinyatakan positif HIV juga harus menjalani tes Covid terlebih dulu.

"Kalau upamanya dia positif Covid, langsung diisolasi Covid. Tetapi kalau pasien negatif Covid berarti langsung masuk ke ruang perawatan," ujar pria yang juga menjadi pengurus Rumah Surya Kasih, rumah singgah bagi ODHA di Waena, Jayapura ini.

Baca juga: [BAGIAN PERTAMA] Kisah Para Perempuan Positif HIV di Papua, Masih Ingin Melihat Anak Beranjak Dewasa

Dilansir Tribun-Papua.com dari laman Kompas.com, sebelum pandemi, kata Agus, banyak orang dengan HIV/AIDS yang tinggal di pedalaman dan kesulitan mendapatkan akses obat dan perawatan medis, memutuskan tinggal di rumah singgah.

Namun, pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir telah membuat mereka memilih tinggal di rumah mereka. Akibatnya, penanganan HIV/AIDS ia sebut "terbengkalai".

"Dengan adanya Covid mereka tidak berani turun ke Jayapura, sehingga di sana gitu kondisinya, sakit dan keburu meninggal."

Baca juga: [BAGIAN KEDUA] Kisah penderita HIV/AIDS di Papua: Merangkul Sesamanya yang Putus Obat

Ia menambahkan, selama tiga bulan terakhir sejak Agustus, pemeriksaan HIV terkendala sebab reagen (bahan kimia aktif) yang digunakan untuk pemeriksaan HIV tak tersedia.

"Dengan kasus yang begitu banyak, setiap bulan kita tidak bisa melakukan tindak lanjutnya. Tiga bulan ini ya, Agustus-Oktober. Ada 15 orang yang belum ditangani sampai sekarang," ungkap Agus.

Seperti diketahui, pemeriksaan HIV dilakukan dengan menggunakan tiga reagen yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk tujuan diagnosis dan meminimalisir kesalahan hasil.

Baca juga: [BAGIAN KETIGA] Mengapa Perempuan Mendominasi Kasus HIV?

Seseorang dinyatakan positif HIV apabila terdapat hasil dua dari tiga reagen reaktif atau seluruh reagen reaktif.

Jika hasil satu reagen reaktif dan dua lainnya non-reaktif, maka perlu pengulangan pemeriksaan.

"[Di] Papua, satu rumah sakit saja ada 15 kasus [baru]. Ini baru satu rumah sakit, belum rumah sakit yang lain. Yang riskan juga ibu hamil, ibu hamil kita tidak melakukan terapi hanya dengan sekali tes karena persyaratan harus tiga reagen."

"Akhirnya penanganan untuk selanjutnya terbengkalai," tegas Agus.

Kelangkaan reagen ini diakui oleh Siti Nurjaya Soltif, perawat yang menangani pasien HIV/AIDS di RSUD Jayapura.

"Reagen ini selama satu tahun terakhir kosong, baik di puskesmas maupun di rumah sakit, sebenarnya ini di seluruh Indonesia," ujar Siti.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved