Hukum dan Kriminal

Bayi Korban Rudapaksa di Bandung Dijadikan Alat Pelaku untuk Cari Dana, Disebut Anak Yatim Piatu

Fakta baru terungkap dari persidangan yang digelar tertutup beberapa waktu yang lalu, terkait guru pesantren yang rudapaksa 12 santriwati.

Editor: Claudia Noventa
thehits.co.nz
Ilustrasi - Fakta baru terungkap dari persidangan yang digelar tertutup beberapa waktu yang lalu, terkait guru pesantren yang rudapaksa 12 santriwati di Bandung, Jawa Barat. 

TRIBUN-PAPUA.COM - Fakta baru terungkap dari persidangan yang digelar tertutup beberapa waktu yang lalu, terkait guru pesantren yang rudapaksa 12 santriwati di Bandung, Jawa Barat.

Diketahui, bayi-bayi yang dilahirkan para korban dijadikan alat oleh pelaku untuk meminta dana kepada sejumlah pihak dan diakui sebagai anak yatim piatu.

Baca juga: Sederet Ketegasan Gubernur Papua Lukas Enembe: Siap Perang dengan KPK dan Siap Dipecat Demokrat

Tak hanya itu. Menurut Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI Livia Istania DF Iskandar, pelaku yang bernama Herry Wirawan juga mengambil dana dari Program Indonesia Pintar milik para korban.

Selain itu, dana BOS yang diterima oleh pihak ponpes tidak jelas penggunaannya.

Baca juga: Tolak Pembangunan Waduk Lambo, Ibu-Ibu Lakukan Aksi Telanjang Dada

Baca juga: Fakta Terungkapnya Kasus 12 Santriwati Dirudapaksa Guru, Ada Korban yang Pulang Kampung saat Hamil

Para korban juga dipekerjakan sebagai kuli bangunan saat membangun gedung pesantren di daerah Cibiru.

"Pelaku kemudian membujuk rayu anak didiknya hingga menjanjikan para korban akan disekolahkan sampai tingkat universitas," ucapnya

Saat pemerkosaan terjadi, para korban tinggal di sebuah rumah yang dijadikan asrama pondok pesantren oleh pelaku.

Baca juga: Bank Mandiri Papua Serahkan Hadiah Livin To The Max, Ferry: Tingkatkan Transaksi di Super Apps Livin

Sidang itu menghadirkan terdakwa HW yang merupakan pemilik Ponpes MN yang digelar di PN Kota Bandung dari tanggal 17 November sampai 7 Desember 2021.

"Dari 12 orang anak di bawah umur, 7 di antaranya telah melahirkan anak pelaku," katanya.

Para korban masih bertalian saudara dan tetangga

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TPA) Garut melakukan penelurusan terkait kasus tersebut.

Ia mengatakan sebagian korban berasal dari Garut dan mereka maih bertalian saudara serta tetangga.

Oleh pelaku, para korban diiming-imingi biaya pesantren hingg sekolah gratis.

Baca juga: BREAKING NEWS: Usman Wanimbo Dikabarkan Mundur dari Partai Demokrat Papua

Baca juga: Usman Wanimbo Mundur dari Partai Demokrat, Boy Dawir: Kami Pastikan Dulu

"Mereka di sana karena gratis, mereka banyak bertalian saudara dan tetangga juga," jelas Ketua P2TP2A Garut, Diah Kurniasari Gunawan kepada wartawan, Kamis (9/12/2021) malam.

Menurut Diah, rata-rata para korban masuk ke pesantren tersebut mulai dari tahun 2016, sejak masih duduk di bangku SMP.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved