Minggu, 10 Mei 2026

Covid 19

Mantan Menkes Klaim Varian Omicron Tak Berbahaya, Pakar Bereaksi

Mantan Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Siti Fadilah Supari kembali menjadi sorotan.

Tayang:
Editor: Roy Ratumakin
Shutterstock/angellodeco
Ilustrasi Covid-19 varian omicron. Omicron terdeteksi di Indonesia. 

Sedangkan, orang yang sudah mendapatkan vaksinasi lengkap dan tetap menjaga protokol kesehatan masih memiliki risiko terpapar varian virus baru yang relatif lebih kecil.

Mutasi Varian Omicron Sangat Tinggi

Mantan menkes Siti Fadilah mengungkapkan bahwa mutasi varian Omicron dari sedikit protein, sehingga menurutnya yang berubah hanya pada ujung protein spike, yakni yang digunakan virus untuk menginfeksi inangnya.

Baca juga: Jelang Nataru, TNI dan Polri di Mimika Tingkatkan Pengamanan

Ahmad pun menjelaskan jika para ilmuwan terutama di bidang biologi molekuler telah mengamati ada pola yang sangat berbeda terkait mutasi varian Omicron.

Pertama, menurut di, jumlah mutasi varian Omicron sangat tinggi dibandingkan varian Delta. Mutasi varian Omicron mencapai 30, sedangkan mutasi varian Delta adalah 8.

"Mutasi yang muncul 30 itu identik dengan mutasi yang sebelumnya yang kita ketahui. Kita masih mempelajari perangai seperti apa yang berubah ketika terjadi mutasi di 30 titik sekaligus," imbuh Ahmad.

Baca juga: Satpolairud Polres Merauke Jemput Nelayan di Laut untuk Divaksin Covid-19

Lebih lanjut Ahmad memaparkan bahwa jumlah mutasi virus yang berhubungan dengan mudahnya virus menyebar.

"Yang dikhawatirkan oleh para ilmuwan, karena ini masih virus yang sama targetnya sama kalo misalkan angka kematiannya masih sama, katakan 2 persen dikalikan jumlah yang lebih banyak, kan, jadi lebih banyak," ujar Ahmad.

Menjawab hal ini, dia menuturkan karena saat ini vaksin Covid-19 sudah tersedia, maka dengan adanya program vaksinasi, virus menghadapi target yang berbeda.

"Jadi itu yang bisa menjelaskan mengapa banyak orang terkena virus ini gejalanya ringan karena bisa saja orang tersebut sudah pernah terpapar atau sudah divaksinasi. Artinya, untuk mengatakan (varian Omicron) 'tidak berbahaya' kita harus tahu dulu populasi mana," jelas Ahmad.

Sebab, lanjut Ahmad, pastinya, orang yang belum divaksinasi, lansia atau orang dengan komorbid, memang harus dilindungi jangan sampai mereka terkena Covid, apapun variannya.

Para ilmuwan juga sedang memahami mengapa tidak banyak pasien bergejala berat meski telah terkonfimasi terinfeksi varian Omicron.

"Kita juga lagi memantau bagaimana imunitas mereka yang divaksin di awal tahun, terutama pada kelompok lansia dan komorbid dalam kurun setahun mereka masih bertahan enggak imunitasnya. Apakah nanti perlu booster atau tidak, kita masih memantau kasus Covid pada mereka yang belum divaksin dengan gejala serius," imbuh Ahmad. 

Apabila nantinya terbukti varian Omicron menyebabkan peningkatan gejala serius, serta persentase angka kematian antara orang yang divaksinasi dengan mereka yang tidak divaksin sama, maka pemberian vaksin dosis ketiga atau vaksin booster dinilai perlu. (*)

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com

Sumber: Tribun Papua
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved