Kesehatan

Ini Penyebab Terjadinya Lonjakan Kasus Covid-19 di Indonesia

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap alasan terjadinya kasus Covid-19 yang melonjak.

Editor: Musa Abubar
Shutterstock/angellodeco
Ilustrasi Covid-19 varian omicron. Omicron terdeteksi di Indonesia. 

TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap alasan terjadinya kasus Covid-19 yang melonjak.

Seperti diketahui, kasus Covid-19 di Indonesia belakangan ini mengalami peningkatan yang signifikan.

Pada Minggu (30/1/2022), kasus Covid-19 dilaporkan mengalami penambahan sebanyak 12.422 kasus.

Baca juga: Kunci Jawaban Buku Tematik Tema 7 Kelas 5 SD: Teks Berisi Dampak Peristiwa Sumpah Pemuda 1928

Kemudian pada Senin (31/1/2022), terjadi penambahan sebanyak 10.185 kasus baru.

Lantas, apa yang membuat kasus Covid-19 kembali melonjak?

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, membenarkan terjadinya kenaikan positivity rate dalam seminggu terakhir.

Baca juga: Kondisi Terkini Gedung SMA Senilai Rp 5 M yang Dikritik Ganjar, Disdikbud: Sudah Diselesaikan

Namun menurut dia, meningkatnya kasus Covid-19 ini sejalan dengan upaya testing dan tracing yang dilakukan dan ditingkatkan.

"Positivity rate mingguan kita ada kenaikan sebesar 3,65%. Hal ini selain seiring dengan kenaikan kasus konfirmasi, tapi juga sejalan dengan ditingkatkannya angka testing dan tracing,” kata dr. Nadia dalam keterangan pers di laman Kemenkes.

Dia menjelaskan, kenaikan positivity rate ini menunjukan kemampuan deteksi Indonesia dalam hal testing dan tracing.

Baca juga: Ajesto Dimorwaum, Anak Papua yang Bermain Barongsai Dalam Ibadah Imlek 2022

Per tanggal 30 Januari 2022, jumlah orang yang di tes adalah 5,75 per 1000 penduduk per minggu.

Angka ini jauh diatas angka anjuran WHO, yakni 1 per 1000 penduduk per minggu.

Peningkatan kuota testing dan tracing ini merupakan bentuk dari upaya deteksi dini dalam mencegah perluasan penularan, serta mencegah munculnya klaster sebaran yang baru.

"Ini juga merupakan usaha untuk mendeteksi lebih awal gejala Covid-19 yang diderita oleh tiap-tiap individu. Hal ini penting untuk mencegah keterlambatan penanganan kasus mengingat varian Omicron yang memiliki persebaran lebih cepat namun cenderung tidak bergejala,”ujar dr. Nadia.

Baca juga: Batasan Usia Minimum Tenaga Honorer yang Direkrut Pemerintah sebagai PNS, Simak Infonya

Saat ini, kata dia, Kemenkes telah melakukan antisipasi dengan menyiapkan kapasitas tempat tidur perawatan Covid-19.

Secara nasional, lanjut dia, total ketersediaan tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) perawatan Covid-19 saat ini berjumlah 78.825 yang dapat tingkatkan sampai dengan kapasitas maksimal 156.847 tempat tidur.

"Untuk Jakarta sendiri, BOR di 196 rumah sakit rujukan saat ini di 6.496 dari 13.777 kapasitas tempat tidur yang tersedia. Dalam kondisi yang dibutuhkan, BOR di Jakarta dapat dikondisikan hingga mencapai 21.000. Jadi, tidak perlu terlalu khawatir, kapasitasnya masih cukup banyak,”katanya.

Baca juga: DJ Indah Cleo Korban Double O Sorong Dimakamkan di Sumatera Barat, Keluarga Pasrah

Agar angka kasus ini tidak bertambah semakin besar, dr. Nadia meminta agar masyarakat tetap patuh untuk menjalankan protokol kesehatan.

Selain itu, ia juga meminta agar vaksinasi booster terus dilakukan dan tetap waspada.

“Jika tidak bergejala, cukup untuk melakukan isoman di rumah atau isoter, dan manfaatkan layanan telemedicine yang tersedia,"tambah dia. (*)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved