Senin, 27 April 2026

Pendidikan

Pulihkan Pembelajaran, Mendikbudristek Luncurkan Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar

Pada masa pandemi Covid-19, krisis pembelajaran yang ada menjadikan pendidikan semakin tertinggal dengan hilangnya pembelajaran (learning loss)

Editor: Maickel Karundeng
(KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim sebelum pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Presiden RI Joko Widodo mengumumkan dan melantik Menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju serta pejabat setingkat menteri. 

Pelaksanaan Kurikulum Merdeka tak lepas dari peran guru. Danang Hidayatullah, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia menganggap bahwa Kurikulum Merdeka merupakan bagian dari guru di sekolah.

Menurutnya, guru harus bisa menyelaraskan adanya perubahan.

“Kita harus sama-sama bergerak dan menggerakkan adanya pemerataan dan penyelarasan dari perubahan ini,”kata Danang.

Baca juga: Enggan Banyak Komentar soal Pemindahan Makam Vanessa Angel, Doddy Sudrajat: Nanti Salah Paham

Senada dengan itu, Sofie Dewayani dari Litara Foundation menyebut untuk meningkatkan kompetensi literasi siswa, diperlukan struktur kurikulum yang fleksibel dan memberikan ruang bagi guru untuk melakukan inovasi.

Sehingga, kata Sofie, guru-guru dapat fokus meningkatkan atau memperbaiki strategi pembelajaran menggunakan bahan ajar yang tepat agar siswa-siswi kita meningkat kemampuan literasinya.

“Jadi saya pikir kurikulum ini merupakan satu hal yang dibutuhkan dengan kebutuhan global dalam dunia pendidikan saat ini,”ujarnya.

Baca juga: Kades Ungkap Sosok Pemimpin Tunggal Jati Nusantara yang Gelar Ritual Maut di Pantai Payangan

Teuku Ramli Zakaria dari Majelis Dikdasmen Muhammadiyah juga mengatakan kurikulum yang baru diluncurkan ini bukanlah kurikulum baru tapi penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya.

Hal ini, menurutnya berkaitan dengan kompetensi guru dan peserta didik.

“Jadi tidak mungkin diubah begitu rupa tetapi harus dilakukan perubahan secara gradual,”katanya.

Cherly Narray dari Persekutuan Gereja Indonesia juga menyambut baik peluncuran Kurikulum Merdeka.

Baca juga: BBMKG Prakirakan Gelombang Tinggi Sepekan 0,25-1,25 Hingga 2,50-4,0 Meter

“Kami sambut sangat baik, baik anak-anak maupun para pengajar dapat merasakan kemerdekaan dalam proses belajar mengajar,”ujarnya.

Dukungan lainnya datang dari berbagai kepala sekolah dan tenaga pendidik. Kepala Sekolah Dasar Negeri 244 Guruminda Kota Bandung, Nunung Nurlaila mengatakan dengan hadirnya kurikulum prototipe membuat sekolahnya bergairah dalam belajar, baik bagi guru maupun peserta didik.

Baca juga: Waduh, Ada Rp 25 Triliun Tagihan Rumah Sakit Covid-19 Belum Dibayar

“Kurikulum ini memberikan kesempatan yang luas untuk murid-murid kita, berkreativitas mengembangkan ide dan gagasan,"katanya.

"Guru-guru memberikan keleluasaan kepada murid-muridnya untuk bisa belajar sesuai dengan bakat minat dan kemampuannya,”ujar Nunung.

Baca juga: Vaksin Merah Putih Mulai Memasuki Tahap Uji Klinis

Guru SMKN 01 Palembang, Win Darmansyah juga menyebut kurikulum protipe lebih fleksibel dibandingkan dengan Kurikulum 2013.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved