Jumat, 17 April 2026

Pendidikan

Zulfikri Sebut Kurikulum Merdeka Beri Ruang Bagi Guru dan Siswa

Kemendikbudristek) pekan lalu, meluncurkan Merdeka Belajar Episode 15 : Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar.

Editor: Maickel Karundeng
Dokumen Kemendikbudristek
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Plt. Kapuskurjar), Zulfikri Anas 

TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pekan lalu, meluncurkan Merdeka Belajar Episode 15 : Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar.

Kurikulum Merdeka diharapkan menjadi jawaban atas krisis pembelajaran yang semakin bertambah akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan meningkatnya kesenjangan pendidikan.

Namun, esensi Kurikulum Merdeka adalah menciptakan ruang bagi setiap individu untuk tumbuh dan berkembang sesuai fitrah keunikannya masing-masing.

Baca juga: Persipura “Menghilang”, Benhur Tomi Mano : Kami Minta Laga Ditunda

"Karena setiap manusia tidak ada produk gagal dari Tuhan, dan setiap manusia punya keistimewaan dan punya ‘ruang’ masing-masing yang disediakan secara fitrah,"kata pelaksana tugas Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Plt. Kapuskurjar), Zulfikri Anas dikutip dari kemdikbud.go.id.

"Tugas kita adalah membantu anak menemukan ‘ruang’ yang sudah disediakan dalam kehidupan,"ujarnya.

Lanjut dia, sehingga tak ada anak yang tidak punya tempat dalam kehidupan.

“Sebelumnya, para guru kalau mendengar kata kurikulum, itu yang terlintas adalah administrasi rumit, bertele-tele, belenggu, dan seolah-olah tidak ada alternatif, semua anak dapat materi sama dengan cara sama, pengalaman belajar dan sumber belajar yang sama, penilaian yangg sama, dan itu sehingga mungkin hanya mengakomodasi sebagian kecil anak yang cocok dengan cara seperti itu,”ujar Zulfikri.

Baca juga: Kronologis Persipura “Menghilang” Versi PT Liga Indonesia Baru

“Kurikulum adalah sebuah proses, iklim, suasana, budaya belajar yang memanusiakan manusia. Kita harus lihat kurikulum dari situ. Sehingga, tidak hanya kemampuan (skills) atau pengetahuan siswa saja yang dikedepankan oleh guru. Mari para guru kita bergerak bersama menyentuh hati peserta didik kita,”ujarnya.

Dalam Kurikulum Merdeka, guru diberi kebebasan untuk memilih format, pengalaman, dan materi esensial yang cocok untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Sedangkan dari sisi siswa, kata dia, mereka punya ruang seluasnya untuk mengeksplor keunikan dirinya masing-masing.

Baca juga: FJPI : Stop Kekerasan Pada Jurnalis Perempuan di Papua

“Jadi kalau dulu orang bilang biasanya ganti menteri ganti kurikulum, tapi ini sekarang ganti anak ganti kurikulum. Jadi semua anak punya ‘kurikulum’ sendiri-sendiri sebetulnya,”katanya.

Zukfikri menjelaskan cara mengimplementasikan kurikulum ini yakni pertama, guru harus mengenal siswanya terlebih dahulu.

Selanjutnya, guru memetakan kompetensi siswa dalam bentuk portofolio. Pada hari pertama di tahun ajaran baru, sebaiknya guru tidak langsung menyampaikan materi tapi masuk ke dunia anak untuk mengenal potensi dan pemahaman mereka.

Baca juga: Driver Taksi Online Bantu Persalinan Ibu Hamil di Mobilnya, Kepala Bayi Sudah Keluar saat di Jalan

Setelah guru mempunyai gambaran atau sebaran peta awal kemampuan anak, kemudian guru menyusun standar dari masing-masing kompetensi anak lalu mulai mengkreasikan proses pembelajaran.

“Misalnya untuk perkalian, anak yang belum paham tentang perkalian bisa berkolaborasi dan beraktivitas dengan anak yang sudah bisa. Kadang anak lebih cepat paham jika belajar bersama temannya,”ujarnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved