Minggu, 12 April 2026

Rusia vs Ukraina

Presiden Ukraina 'Luluh': NATO Tidak Siap Menerima Kami

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky akhirnya tak ingin memaksakan kehendak untuk Ukraina masuk dalam keanggotaan NATO.

Editor: Roy Ratumakin
Istimewa
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky saat melakukan perjalanan guna bertemu dengan tentara Ukraina di medan perang menghadapi Rusia. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky akhirnya tak ingin memaksakan kehendak untuk Ukraina masuk dalam keanggotaan NATO.

Menurut Volodymyr Zelensky, hanya karena satu diantara masalah tersebut, Rusia melakukan invasi ke negaranya.

"Saya telah tenang mengenai pertanyaan ini sejak lama setelah kami memahami bahwa NATO tidak siap untuk menerima Ukraina," kata Zelensky dalam sebuah wawancara yang disiarkan ABC News pada Senin (7/3/2022) malam waktu setempat.

Baca juga: NATO: Kami akan Pertahankan Setiap Inci Wilayah Sekutu, Perang Rusia-Ukraina Tak Boleh Menyebar

Dalam tanggapan lain yang ditujukan untuk "menenangkan" Moskwa, Zelensky mengatakan dia terbuka untuk berkompromi pada status dua wilayah pro-Rusia, Donetsk dan Luhansk yang diakui Presiden Vladimir Putin sebagai wilayah merdeka sebelum melancarkan invasi pada 24 Februari.

"Aliansi (NATO) takut akan hal-hal kontroversial, dan konfrontasi dengan Rusia," tambah dia, dikutip dari AFP, Rabu (9/3/2022).

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg berbicara dengan media saat ia tiba untuk pertemuan para menteri pertahanan NATO di markas NATO di Brussels, Rabu, 16 Februari 2022.
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg berbicara dengan media saat ia tiba untuk pertemuan para menteri pertahanan NATO di markas NATO di Brussels, Rabu, 16 Februari 2022. (AP PHOTO/OLIVIER MATTHYS)

Mengacu pada keanggotaan NATO, Zelensky mengatakan melalui seorang penerjemah bahwa dirinya tidak ingin menjadi presiden dari negara yang memohon sesuatu dengan berlutut.

Rusia sendiri telah mengatakan tidak ingin negara tetangga Ukraina bergabung dengan NATO, aliansi transatlantik yang dibuat pada awal Perang Dingin untuk melindungi Eropa dari Uni Soviet.

Dalam beberapa tahun terakhir aliansi telah berkembang lebih jauh dan lebih jauh ke timur untuk mengambil negara-negara bekas blok Soviet, membuat marah Kremlin.

Baca juga: Presiden Ukraina: Semua Orang yang Mati di Ukraina Karena Ulah ‘NATO’

Rusia melihat perluasan NATO sebagai ancaman, seperti halnya postur militer sekutu baru Barat ini di depan pintunya.

Sesaat sebelum dia mengejutkan dunia dengan memerintahkan invasi Rusia ke Ukraina, Putin telah lebih dulu mengakui dua "republik" separatis pro-Rusia di Ukraina timur, yakni Donetsk dan Lugansk yang telah berperang dengan Kyiv sejak 2014.

Putin sekarang ingin Ukraina juga mengakui keduanya sebagai negara yang berdaulat dan mandiri.

Baca juga: Ukraina Klaim Telah Bunuh 12.000 Tentara Rusia di Hari ke-13 Invasi

Ketika ABC News bertanya tentang permintaan Rusia ini, Zelensky mengatakan dia terbuka untuk berdialog.

"Saya berbicara tentang jaminan keamanan," katanya.

Zelensky menyebut, Donetsk dan Lugansk pada dasarnya belum diakui merdeka oleh negara lain kecuali Rusia.

“Kedua wilayah ini belum diakui oleh siapa pun kecuali Rusia, republik semu ini. Tetapi kami dapat mendiskusikan dan menemukan kompromi tentang bagaimana wilayah ini akan terus hidup," ungkap Zelensky.

Kerumunan besar terlihat berkumpul memenuhi stasiun kereta api Kharkiv ketika ribuan orang berusaha meninggalkan kota yang dikepung pada Senin (7/3/2022).
Kerumunan besar terlihat berkumpul memenuhi stasiun kereta api Kharkiv ketika ribuan orang berusaha meninggalkan kota yang dikepung pada Senin (7/3/2022). (Twitter Nexta TV via Kompas.com)
Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved