Sejarah
Sejarah Hari Ini: 15 Menteri Loyalis Bung Karno Ditangkap Soeharto
Alih-alih menertibkan keadaan, Soeharto justru memanfaatkan Supersemar untuk memberantas loyalis Soekarno. Lalu Soeharto menggulingkan Soekarno.
TRIBUN-PAPUA.COM - Pada 18 Maret 1966, tepat 56 tahun lalu, Soeharto menangkap 15 menteri Republik Indonesia yang dianggap loyalis Soekarno.
Penangkapan itu menyusul dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) oleh Presiden Soekarno.
Surat itu berisi pesan kepada Soeharto untuk mengamankan situasi: ancaman kudeta dan demonstrasi.
Alih-alih menertibkan keadaan, Soeharto justru memanfaatkan Supersemar untuk memberantas loyalis Soekarno. Karenanya, Soeharto dapat mengganti Soekarno sebagai presiden.
Baca juga: Mengenal Inggit Garnasih, Sosok Inspirasi Soekarno Muda
Soekarno dikenal sebagai tokoh bangsa. Perjuangannya memerdekaan bangsa begitu besar. Pun karismanya mampu membuat Indonesia dipandang sebagai bangsa besar nan bernyali.
Kondisi itu berubah banyak ketika Indonesia mulai memasuki era 1960-an. Resesi ekonomi mulai menghantui Indonesia.
Segenap rakyat Indonesia menjerit. Harga bahan pokok naik tak karuan. Sedang sikap pemerintah justru sebaliknya.
Pejabatnya banyak hidup bermewah-mewah. Kondisi itu berbanding terbalik dengan kondisi rakyat yang hidup makin susah.
Akibatnya, nada-nada protes muncul di mana-mana.
Mahasiswa pun menuntut Bung Karno tiga hal yang lazim dikenal sebagai Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura).
Pertama, bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI), Reshuffle Kabinet Dwikora, dan turunkan harga.
Soekarno pun mendengar.
Pada Jumat 11 Maret 1966, Presiden Soekarno memimpin sidang Kabinet Dwikora yang disempurnakan (Kabinet 100 Menteri) di Istana Merdeka, Jakarta.
Akan tetapi, Bung Karno tak sampai selesai. Ia meninggalkan Jakarta lebih awal dan mengungsi ke Istana Bogor.
Keamanannya terancam karena aksi mahasiswa dan munculnya isu kudeta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/presiden-soekarno-saat-melantik-kabinet-dwikora-ii.jpg)