Internasional

Undangan Jokowi Langsung Dikunci, Ternyata Ini Maksud Terselubung Elon Musk Datang ke Indonesia

Jokowi lalu mengundang Elon Musk untuk datang ke Indonesia. Pendiri Tesla itu langsung mengiyakan undangan tersebut. Ada apa maksudnya?

Tribun-Papua.com/Istimewa
Pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Pendiri SpaceX Elon Musk di Markas SpaceX, Boca Chica, Amerika Serikat, Sabtu 14 Mei 2022. (IG @sekretariat.kabinet) 

Tapi, tahukah Anda, bahwa di masa mendatang, sebenarnya keberhasilan Elon Musk menjadi miliarder dunia akan sangat tergantung pada Indonesia?

Baca juga: Diatur Luhut, Jokowi Bakal Bertemu Elon Musk di AS: Bangun Pabrik Mobil Listrik di Sulawesi?

 Ya, tanpa cadangan alam dan produk dari Indonesia, bisa dipastikan Elon Musk akan kesulitan mempertahankan posisinya kini.

Bisa jadi, jika Indonesia mengalihkannya kepada pihak lain, maka pihak tersebutlah yang akan berada di pucuk tertinggi miliarder hijau terkaya di dunia. 
Elon Musk sepertinya tidak mau sedikit pun menutupi potensi ketergantungannya kelak pada Indonesia,

Makanya, Elon Musk langsung ‘ngiyain’ waktu diajak Jokowi ke Indonesia, ternyata dia bakal ‘kunci’ takhta orang terkaya sejagat jika kuasai harta di perut bumi Nusantara ini.

Sang CEO Tesla itu tak ragu-ragu bahkan menyambut baik tawaran investasi yang diajukan oleh Presiden Jokowi dalam undangan yang disampaikan pada akhir tahun 2020 lalu.

Apa sebenarnya membuat Elon Musk akan sangat tergantung pada Indonesia?

Tidak lain adalah baterai listrik yang menjadi inti tenaga dari mobil-mobil listrik buatan perusahaannya.

Salah satu syarat mutlak dari pembuatan baterai listrik adalah keberadaan nikel.

Unsur penting tersebut, yang membuat Indonesia boleh berbangga diri, terdapat cadangan yang sangat berlimpah di Indonesia.

Tidak tanggung-tanggung, Indoneisa memiliki status mentereng kini, yaitu produsen dan eksportir nikel terbesar di dunia.

Baca juga: Elon Musk Tantang Vladimir Putin untuk Berduel: Taruhannya adalah Ukraina

Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 27 persen pasar nikel global dikuasai oleh Indonesia.

Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sepanjang tahun 2019, menunjukkan bahwa Indonesia mampu memproduksi 800.000 ton nikel.

Dalam hal ini, pemerintah sigap melihat potensi kebutuhan baterai listrik sehingga segera membatasi ekspor bijih nikel.

Tujuannya jelas, agar Indonesia tidak mengekspor barang mentah, melainkan barang yang telah diolah, alias barang jadi yang diharapkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi. (*)

Halaman
123
Sumber: Tribun palu
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved