Harga BBM Resmi Naik

Harga BBM Naik: Puluhan Sopir Angkot Mogok di Merauke, Ini Tuntutan Mereka

Pasca kenaikan BBM Sabtu (3/9/2022) lalu, pendapatan sopir angkot merosot.

Tribun-Papua.com/ Ida
Puluhan sopir angkot melakukan aksi mogok di Jalan Martadinata Merauke, Papua, Rabu (7/9/2022). 

TRIBUN-PAPUA.COM, MERAUKE - Dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), puluhan sopir angkutan umum (angkot) di Kabupaten Merauke, Papua mogok kerja, Rabu (7/9/2022).

Pantauan Tribun-Papua.com, sekitar 30 angkot berjejer didepan SMP Negeri 2 Merauke sampai depan SMA YPK Jalan Brawijaya yang berhadapan langsung dengan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke.

Selanjutnya, puluhan sopir angkot berpindah di Jalan Martadinata depan gedung serba guna Otoritas Bandar Udara Wilayah X depan TK Lanud Johanes Abraham Dimara Merauke.

Salah satu sopir angkot Merauke, Hendrik kepada sejumlah wartawan mengatakan, aksi mogok itu bentuk spontanitas yang dilakukan belasan sopir hingga menarik simpatisan sopir angkot lainnya.

"Aksi mogok ini spontanitas, tidak ada yang koordinir. Kita solidaritas, tak ada pemaksaan dan tidak anarkis. Awalnya 15 orang ternyata semakin banyak yang datang hingga 30-an orang. Bukti kekompakan kami," tuturnya.

Baca juga: Harga BBM Naik, Jokowi Sebut Inflasi Bakal Meningkat 1,8 Persen

Hendrik menjelaskan, aksi mogok bertujuan meminta Pemerintah Kabupaten Merauke agar mendukung kenaikan tarif angkot bagi penumpang.

Jika sebelumnya, tarif angkot bagi anak sekolah Rp 3.000 per penumpang dan orang dewasa Rp 5.000 per penumpang.

"Sekarang kita minta orang dewasa tarifnya angkotnya Rp 7.000 - Rp 8.000. Tarif untuk anak sekolah Rp 5.000 karena BBM sudah naik dan kami harus antre di SPBU lagi," jelasnya.

Baca juga: Puan Dapat Kejutan Ultah saat Demo Tolak Kenaikan Harga BBM Berlangsung di Depan Gedung DPR

Dia mengungkapkan, pasca kenaikan BBM Sabtu (3/9/2022) lalu, pendapatan sopir angkot merosot.

Biasanya sehari bisa mendapatkan uang sebesar Rp 50.000. Kini justru hanya mendapatpan uang Rp 10.000-20.000 dalam sehari.

"Pendapatan tidak seimbang dengan antrean panjang di SPBU dan kenaikan BBM. Memang banyak pengetap bikin kita antre," beber Hendrik.

"Penghasilan kami sebagai sopir tidak pasti. Sebelumnya rata-rata dalam 1 bulan paling tinggi Rp 1 juta dan kebanyakan Rp 800.000 perbulan. Tapi sekarang ini kita pulang sehari hanya bisa bawa ke rumah Rp 10.000 untuk sayur," tandas Hendrik. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved