Mutilasi di Mimika
Kasus Mutilasi di Timika Disebut Telah Melecehkan Orang Papua
Leonard berujar, Pemerintah Republik Indonesia perlu mengevaluasi seluruh pasukan keamanan yang bertugas di Papua.
Penulis: Hendrik Rikarsyo Rewapatara | Editor: Paul Manahara Tambunan
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kaki Abu menilai pembunuhan empat warga Nduga di Kabupaten Mimika adalah bentuk pelecehan terhadap orang asli Papua (OAP).
Demikian disampaikan Direktur LBH Kaki Abu, Leonardo Ijie, dalam diskusi daring yang dikuti Tribun-Papua.com, Kamis (8/9/2022).
"Tindakan pembunuhan serta mutilasi ini telah melecehkan orang asli Papua," katanya.
Karena itu, Leonard berujar, Pemerintah Republik Indonesia perlu mengevaluasi seluruh pasukan keamanan yang bertugas di Papua.
Baca juga: Jenderal Dudung Murka, Minta Prajurit Terlibat Mutilasi di Papua Segera Dipecat
"Kenapa perlu dievaluasi. Karena kebanyakan orang asli Papua dianggap separatis, atau bagian dari TPNPB," ujarnya.
Leonard menilai, selama ini negara tidak pernah memberikan solusi atas banyaknya tindakan kekerasan yang dialami orang asli Papua.
"Negara tidak memberikan solusi. Bukan hanya peristiwa mutiliasi di Mimika. Tapi beberapa kekerasan di Provinsi paling timur ini," tegasnya.
Seharusnya, kata dia, negara punya komitmen terhadap kemanusiaan. Bukan hanya menurunkan pasukan keamanan ke Tanah Papua.
Baca juga: 6 Prajurit TNI Terduga Pelaku Mutilasi di Timika Papua Terancam Dipecat Tidak Terhormat
"Komitmen negara sangat tidak jelas. Operasi Tim pengamanan yang diturunkan terus-menerus di Papua juga amat tidak jelas," ungkapnya.
Untuk itu, Leonard meminta negara segera mencari solusi penyelesaian masalah ini.
"Jangan hanya mementingkan sumber daya alam Papua," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/8-Direktur-LBH-Kaki-Abu-Leonardo-Ijie.jpg)