Kongres Masyarakat Adat

Mengenal Swamening, Makanan Khas Masyarakat Adat Lembah Grime

Adapun, swamening adalah makanan khas masyarakat adat Lembah Grime, yang menggunakan bahan dasar mentah dari sayur lilin, gedi, dan sagu.

Tribun-Papua.com/ Calvin
Ketua Koordinator Perempuan Adat Lembah Grime, Elizabeth Yanteo mengatakan swamening adalah makanan khas masyarakat adat Lembah Grime yang kerap disajikan dalam pesta adat. 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua merupakan salah satu daerah di bumi cenderawasih yang memiliki 19 distrik, dan 139 kampung, Senin (26/9/2022).

Dengan jumlah distrik dan kampung yang ada, kabupaten ini menyimpan banyak budaya dan adat istiadat di tengah-tengah kehidupan masyarakat lokal hingga saat ini, salah satunya yaitu di daerah Lembah Grime.

Secara administratif daerah tersebut berlokasi di Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua yang memiliki beberapa kampung serta distrik sekaligus, yakni Kemtuk, Kemtuk Gresi, Gresi Selatan, Namblong, Nimboran, dan Distrik Nimbokrang.

Baca juga: Festival Swamening di Genyem, Timothius Demetouw: Diharapkan ASN Ikut Meramaikan!

Walau posisinya di sudut kota, wilayah ini memiliki kuliner tradisional yang belum diketahui banyak orang yaitu, Swamening atau Gedi Gulung yang menjadi makanan khas masyarakat adat Lembah Grime.

Kepada Tribun-Papua.com, Ketua Koordinator Perempuan Adat Lembah Grime, Elizabeth Yanteo mengatakan, swamening adalah makanan khas masyarakat adat Lembah Grime.

Menurut Elisabeth, makanan tersebut biasanya disajikan dalam pesta adat seperti acara minang dan lain sebagainya.

"Kalau dalam acara minang, kita pasti akan disambut dengan makanan swamening, karena sudah jadi makanan pokok kami di kampung," kata Elisabet.

Elisabet mengatakan, untuk proses pembuatan swamening ini sangatlah mudah, cukup menggunakan bahan dasar mentah seperti sayur lilin, Gedi, dan sagu.

"Jadi untuk cara masakanya daun sayur gedi diatur berselang-seling di atas tempat yang rata, kemudian ambil sagu lalu tabur di atas daun tersebut, lalu tambahkan kelapa secukupnya, selanjutnya isi sayur lilin yang sudah dikupas, dan atur secara merata, kemudian gulung perlahan-lahan dan diikat dengan tali yang diambil dari kulit sayur lilin tersebut, dan direbus dengan wajan yang sudah ada air dengan campuran bumbu seperti tomat, rica, garam, serai, serta lainnya hingga mendidih," jelasnya.

Setelah semuanya mendidi, daun sayur gedi yang membukus swamening itu akan terbela di dalam wajan tersebut.

"Kalau sudah pecah begitu, tandanya sudah masak dan bisa dimakan," ujarnya.

Baca juga: Raih Penghargaan Kepala Daerah Inovatif, ASN Pemkab Jayapura Diminta Genjot Program DMMD

Jika sudah masak, menurut Elisabeth, makanan tersebut sudah dapat dikonsumsi menggunakan sambal yang telah diulek. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved