Info YPMAK

Fasih Berhahasa Inggris, Peserta Beasiswa YPMAK Ini Ingin Jadi Guru di Kampung Halamannya

Di Surabaya, Natalis Epere mengambil program studi pendidikan guru jurusan bahasa inggris dan telah semester 9 (semester akhir).

Penulis: Marselinus Labu Lela | Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Marselinus Labu Lela
Natalis Epere, satu di antara penerima program beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Marselinus Labu Lela

TRIBUN-PAPUA.COM, TIMIKA – Program beasiwa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI) sangat bermanfaat untuk generasi penerus anak asli Mimika di semua jenjang pendidikan.

Satu di antaranya adalah pria kelahiran 1997 bernama Natalis Epere yang saat ini menempuh pendidikan sarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Di Surabaya, Natalis Epere mengambil program studi pendidikan guru jurusan bahasa inggris dan telah semester 9 (semester akhir).

Baca juga: Tiga Anak Papua Penerima Beasiswa YPMAK Lulusan API Banyuwangi Jadi Pilot

Natalis adalah anak pertama dari 7 bersaudara dari pasangan suami istri Petrus Epere dan Yofita Irahewa.

Dirinya merupakan anak asli Mimika, suku Kamoro yang tinggal Kampung Otakwa, Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.

 

 

Ketika ditanya kenapa mengambil jurusan bahasa inggris karena hobi berbahasa inggris apalagi jurusan ini unik dan bisa berkomunikasi dengan siapapun diseluruh dunia.

"Ya saya sudah tahap penyusunan skripsi. Kalau lulus saya akan mengabdi di kampung halaman menjadi seorang guru bahasa Inggris," ungkap Natalis kepada Tribun-Papua.com.

Tak lupa dirinya juga mengucapkan terimakasih dan bersyukur karena YPMAK dan PT Freeport Indonesia sudah mengsuport dana melalui beasiswa.

Baca juga: Tim Monev YPMAK Ingatkan Penerima Beasiswa di Kota Malang: Kuliah Tak Boleh Lebih 5 Tahun

"Saya sangat membutuhkan beasiwa karena orangtua saya hidup pas-pasan," katanya.

Ia menyebut, sekolah menjadi hal utama untuk dirinya karena  melihat kurangnya guru di kampung halamannya sehingga proses pendidikan tidak berjalan dengan baik.

"Kampung kami jauh dari Timika dan tidak ada sinyal. Guru sja kurang bagaimana kami bisa menjadi hebat seperti orang lain?," ujarnya.

Sebagai wahasiswa dan calon guru dirinya berharap kepada pemeintah daerah Kabupaten Mimika agar melihat kejadian ini apalagi didaerah pedalaman masih membutuhkan guru.

"Dari dinas pendidikan harus mengsuport tenga guru orang asli Papua untuk mengajar di pedalaman. Saya akan pulang mengabdi di daerah saya sendiri," pungkas Natalis. (*)

Sumber: Tribun Papua
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved