Kongres Masyarakat Adat
Kaum Perempuan dari Suku Komoro Mimika Jual Kerajinan Tangan di KMAN VI Papua
Perhiasan kepala (Yaumoko), piring makan dari lidi kelapa, keranjang kecil, bakul panjang dari lidi kelapa, perhiasan manik-manik, dan baju adat
Penulis: Putri Nurjannah Kurita | Editor: M Choiruman
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Suku Kamoro adalah salah satu suku yang tinggal di wilayah pesisir selatan Papua, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Orang Kamoro dikenal sebagai masyarakat yang memiliki keterampilan dalam membuat seni ukir atau patung.
Baca juga: Berkah Pembukaan KMAN VI Papua, Bude Wahyu Asal Mojokerto Raup Untung Rp 8 Juta Sehari
Mariana Nakiaya dari Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro bersama timnya ke Jayapura untuk mengikuti Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) VI Papua yang berlangsung di Tanah Tabi, Kabupaten Jayapura.
Selain mengikuti kongres, mereka memanfaatkan momentum tersebut untuk menjual hasil karya-karya mereka, di antaranya noken, rumbai-rumbai atau Tauri.
Rumbai-rumbai ini digunakan sebagai rok yang biasanya dipakai oleh penari. Rumbai-rumbai yang dibuat berasal dari pucuk sagu yang dianyam.
Selain itu ada perhiasan kepala (Yaumoko), piring makan dari lidi kelapa, keranjang kecil, bakul panjang dari lidi kelapa, perhiasan manik-manik, dan baju adat.
Baca juga: Di KMAN VI Papua, Perempuan Adat Suku Kamoro di Mimika Suarakan Hak Kursi di DPRD
Perhiasan kepala atau mahkota dijual dengan harga Rp 200 ribu dan sudah terjual habis.
"Kami hari ini dapat Rp 800 ribu. Ini hasil dari sanggar yang kami buat,"ujarnya kepada Tribun-Papua.com, di Kampung Sereh, Rabu (26/10/2022).
Mariana bersama rekan-rekannya memang memang punya keahlian untuk menganyaman Noken dan rumbai-rumbai.
Baca juga: Datang ke Jayapura, Peserta KMAN VI Terkesan Lihat Toleransi Umat Beragama di Papua
Jika tidak punya keahlian khusus noken dan Tauri yang dianyam tidak akan mempunyai hasil yang bagus.
Selain mengayam Mariana juga membatik kain batik Papua dengan motif orang Kamoro, untuk mencari uang makan atau uang saku.
Meriana juga menambahkan telah mendapat hak cipta, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atas hasil-hasil karyanya bersama rekannya.
Baca juga: PHRI Jadikan KMAN VI Papua Jadi Ajang Promosi Positif, PHRI: Papua Makin Dikenal
"Saya punya kain batik, saya canting parang, noken, Tauri. Ada juga satu set saya gambar namanya Sarung Setan, saya coba pakai karena ini dari lelulur, hak ciptanya juga sudah ada," tuturnya. (*)