Senin, 11 Mei 2026

Plt Bupati Mimika Tersangka Korupsi

Tak Hadiri Panggilan, Sidang Dugaan Korupsi Plt Bupati Mimika Ditunda

Dalam sidang itu, Hakim Tunggal Zaka Talpatty mengatakan, berdasarkan pertimbangan maka eksepsi termohon patut untuk dikabulkan.

Tayang:
Penulis: Calvin Louis Erari | Editor: Gratianus Silas Anderson Abaa
Tribun-Papua.com/ Calvin
Tampak tak hadirnya Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob dan Direktur PT Asian One Air, Silvi Herawaty saat tidak mengikuti pelaksanaan Sidang Pokok perkara dugaan korupsi dan ditunda. Dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua, Willem Marco Erari mengatakan ditunda ke 27/3/2023. 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - karena tidak menghadiri panggilan  Kejaksaan, Sidang Pokok perkara dugaan korupsi Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob dan Direktur PT Asian One Air Silvi Herawaty ditunda, Kamis (16/3/2023).

Dalam sidang tersebut, Hakim Ketua, Willem Marco Erari yang ditemui hakim anggota Nova Claudia Delima dan Donald Everly Malubaya, mengatakan, penundaan tersebut dilakukan karena kedua terdakwa tidak menghadiri sidang.

Untuk itu mereka memberikan Kesempatan agar kejaksaan memanggil kembali kedua terdakwa.

"Sidang ditunda ke tanggal Senin, 27 Maret 2023, pukul 10.00 WIT dengan agenda yang sama," kata Marko dalam sidang.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Kelas 1A Jayapura juga telah memutuskan putuskan sidang praperadilan Johannes Rettob gugur.

Baca juga: Ini Langkah Kuasa Hukum Johannes Rettob Pasca-PN Jayapura Gugurkan Permohonan Praperadilan

Dalam sidang itu, Hakim Tunggal Zaka Talpatty mengatakan, berdasarkan pertimbangan maka eksepsi termohon patut untuk dikabulkan.

Maka pokok perkara tidak perlu dipertimbangkan lagi karena permohonan praperadilan pemohon harus dibatalkan demi hukum.

"Menimbang praperadilan yang diajukan para pemohon gugur, maka biaya dalam perkara ini dibebankan kepada pemohon," kata Zaka.

Baca juga: Jadi Mitra YPMAK, Kadinkes Mimika: Kami Sangat Bangga

Mengadili, dalam eksepsi mengabulkan eksepsi termohon dalam pokok perkara (1) menyatakan permohonan praperadilan para pemohon gugur. (2) membebankan biaya perkara praperadilan kepada para pemohon sejumlah Rp. 5.000.

"Demikian diputuskan pada hari ini, kamis 16 Maret 2023," ujar Zaka.

Dalam pertimbangan tersebut, hakim merujuk pada Putusan MK Nomor q02/PUU-XII/2015 yang menyebutkan dalam hal suatu perkara sudah dimulai diperiksa oleh pengadilan negeri sedangkan pemeriksaan pada permintaan Praperadilan belum selesai maka permintaan tersebut gugur.

"Menimbang berdasarkan putusan MK Nomor 102/PUU-XII/2015 menyebutkan  Pasal 82 ayat (1) huruf (d) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang frasa, "suatu perkara telah mulai diperiksa" tidak dimaknai permohonan praperadilan gugur ketika pokok perkara telah dilimpahkan dan telah dimulai sidang pertama terhadap pokok perkara atas nama terdakwa/pemohon praperadilan," pungkasnya.

Menanggapi keputusan tersebut, Kuasa Hukum dari Johannes Rettob, Marvei J Dangeubun mengatakan, praperadilan itu bersifat final artinya tidak ada upaya banding atau kasasi dalam upaya hukum.

"Sekarang ini kita berpikir bagaimana langkah-langkah hukum untuk perkara pokoknya," Marvei.

Menurut dia, keputusan tersebut ada karena tidak adanya pemeriksaan pokok permohonan praperadilan.

Artinya, pemeriksaan hanya dilakukan pada tingkat persepsi, dimana, karena perkara pokok sudah dilimpahkan maka pasal 82 dari KUHP mengatakan dengan sendirinya praperadilan gugur.

"Misalnya disaat praperadilan, mereka belum mengajukan perkara pokok, maka itu, ini memang strategi yang dimainkan oleh teman-teman kita di Kejaksaan Tinggi dengan melompat-lompat dari tahapan-tahapan, seperti selama ini kami bantah-bantah karena tidak ada tahap 2 dari penyerahan barang bukti dari tersangka,".

"Penyerahan barang bukti dan tersangka ini sesuatu yang berbeda, jadi tidak bisa dilakukan penyerahan bukti tanpa tersangka, atau sebaliknya, tapi itulah, teknik yang dipakai," jelasnya.

Menurut dia, dalam pemeriksaan pertama, mereka sedikit berbeda pendapat karena, saat persidangan pertama, terdakwa tidak hadir dalam ruang sidang, tetapi ditanyakan tentang identitasnya, lalu Jaksa membaca dakwaannya dan dilakukan pemeriksaan pertama.

"Tetapi majelis berpendapat lain, bahwa pemeriksaan pertama itu walaupun terdakwa tidak hadir tetapi itu dianggap sudah dilakukan sidang pertama," lanjut dia.

Kemudian, saat ditanya awak media, apakah saat sidang perkara hukum nanti, kuasa hukum siap hadirkan klien mereka, namun Marvey mengatakan, soal hal tersebut akan di diskusikan.

"Tentunya soal keputusan hari ini akan kami sampaikan kepada klien dan akan update juga, Tetapi pada prinsipnya kami menjunjung tinggi hukum dan klien kami juga sangat menghormati hukum dan perundang-undangan yang berlaku," katanya.

Untuk itu, selaku kuasa hukum, Marvei mengaku optimis bahwa, kliennya sangat patuh terhadap hukum.(*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved