Jumat, 1 Mei 2026

Info Mimika

2.235 Penderita TBC di Mimika Papua Berhasil Terobati

Pada 2022 berhasil melakukan pemeriksaan TBC kepada 12 ribu orang, di situ merupakan pencapaian pemeriksaan orang tertinggi

Tayang:
Penulis: Marselinus Labu Lela | Editor: M Choiruman
Tribun-Papua.com
HARI TBC - Foto bersama saat momen peringatan hari Tuberkulosis se-dunia tahun 2023 di hotel Horison Ultima, jalan Hasanuddin, Timika, Papua Tengah, Selasa (11/4/203). 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Marselinus Labu Lela

TRIBUN-PAPUA.COM, TIMIKA - Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar peringatan Hari Tuberkulosis se-dunia tahun 2023 di Hotel Horison Ultima di Jalan Hasanuddin Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. 

Di Kabupaten Mimika sendiri masih sangat banyak penyakit menular TBC dan yang hadir dengan berbagai variasi. 

Baca juga: Berkaca pada Pandemi Covid-19, Upaya Penanggulangan TBC Harus Ditingkatkan

Adapun program TBC digalang pada peringatan Tuberkulosis kali ini bertujuan untuk eliminasi di tahun 2030 hingga turun 65 per 100 ribu penduduk. 

"Jadi pogram TBC ada tujuan dengan eliminasi di tahun 2030 maka selama 6 tahun ke depan angka TBC harus m 65 per 100 ribu penduduk. Dan angka kematian 6 per 100 ribu penduduk," kata Kepala Seksi Penyakit Menular Dinas Kesehatan Mimika, Kamaludin kepada Tribun-Papua.com di Timika.

Dikatakan, angka TBC di Mimika dua kali lipat dari angka nasional, dengan kejadian TBC sebesar 700 per 100 ribu penduduk dan dalam upaya penurunan menjadi 65 per 100 ribu penduduk. 

"Ini pekerjaan berat, di mana pada 2022 berhasil melakukan pemeriksaan TBC kepada 12 ribu orang, di situ merupakan pencapaian pemeriksaan orang tertinggi sepanjang tahun 2014 sampai 2022," ujarnya.

Diketahui di Kabupaten Mimika sendiri tercatat 2.235 orang telah terobati sepanjang tahun 2022.

Sementara itu Penjabat Sekda Mimika, Petrus Yumte mengatakan, TBC bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan tetapi tanggung jawab semua sektor dan individu.

Baca juga: Yayasan Stop TB : Waspada TBC Laten, Tidak Bergejala Bisa Muncul Kapanpun

Momentum peringatan Hari TB se-dunia diharapkan mendorong dan meningkatkan peran serta dan dukungan masyarakat dalam program penanggulangan TBC.

Lebih lanjut, Kabupaten Mimika merupakan salah satu tempat TBC tertinggi di mana penyakit TBC telah berkembang di masyarakat.

Hampir semua fasilitas kesehatan baik di kota, distrik, dan kampung di temukan penyakit ini. Angka keberhasilan pengobatan kita baru mencapai 76 persen dan belum mencapai angka diharapkan yaitu 90 persen dan angka putus pengobatan juga masih tinggi.

Baca juga: Tahun ini, Kemenkes Agendakan Skrining TBC Besar-besaran

"Ini menunjukan kepada kita bahwa, program penanggulangan TBC di Kabupaten Mimika masih  perlu mendapat dukungan dari semua pihak," katanya.

Menurut Petrus, ada beberapa hal perlu dilakukan guna meningkatkan pelayanan TBC dan percepatan eliminasi TBC di Mimika yakni perlunya komitmen pelaksana pelayanan,  pengambil kebijakan, pendanaan untuk operasional, bahan serta sarana prasarana. 

Selanjutya, keterlibatan lintas program dan lintas sektor dalam penanggulangan TBC untuk memastikan masyarakat dapat mengakses layanan TBC di daerah terpencil, lokasi permukiman padat seperti asrama, barak dan lapas atau rutan.

Dikatakan, perlu adanya intervensi terhadap faktor kesehatan lain yang bisa berpengaruh terhadap risiko terjadinya TBC secara signifikan seperti HIV, gizi buruk, diabetes mellitus, merokok, serta semua keadaan yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh.

"Kita harus mengobati pasien sesuai standar guna mencegah terjadinya kekebalan ganda kuman TBC terhadap obat anti TBC," ujarnya.

Ia mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar berpartisipasi membentuk dan membiayai kader TBC kampung.

Baca juga: Eliminasi TBC Harus Dilakukan Multisektor

"Fasilitas pelayanan kesehatan swasta juga kita harap melakukan pengobatan pasien TBC sesuai standar dan menyampaikan notifikasi kepada Dinas Kesehatan," imbuhnya.

Menurutnya, pengobatan tidak tepat dapat mengakibatkan timbulnya TBC resisten yakni obat yang dapat menghambat terwujudnya eliminasi TBC di Idonesia. 

Pengobatan TBC resisten obat memakan waktu  lama,  dapat menimbulkan berbagai efek samping,  serta memerlukan pembiayaan yang berlipat ganda dibandingkan dengan pengobatan TBC sensitif obat. 

Baca juga: Tidak Semua Orang Terinfeksi Kuman TBC Mengalami Gejala Sakit

Tak hanya itu, beban sosial ekonomi pasien, keluarga, masyarakat dan negara akan  meningkat bila jumlah pasien kebal obat TBC juga meningkat. 

"Saya berpesan agar selain mengobati pasien TBC, fasilitas kesehatan dapat memberikan terapi pencegahan TBC sehingga tidak menular. Ini perlu karena tujuan kita di tahun 2030 tereliminasi di Mimika," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved