Kamis, 16 April 2026

Nasional

Berkaca pada Pandemi Covid-19, Upaya Penanggulangan TBC Harus Ditingkatkan

Kementerian Kesehatan RI bersama Stop TB Partnership Indonesia (STPI) mengadakan side event sebagai rangkaian pertemuan pertama Health Working Group.

Editor: Roy Ratumakin
Istimewa
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) bersama Stop TB Partnership Indonesia (STPI) mengadakan side event sebagai rangkaian pertemuan pertama Health Working Group (HWG). 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) bersama Stop TB Partnership Indonesia (STPI) mengadakan side event sebagai rangkaian pertemuan pertama Health Working Group (HWG).

Pertemuan tersebut bertajuk “Pembiayaan Penanggulangan TBC: Mengatasi Disrupsi Covid-19 dan Membangun Kesiapsiagaan Pandemi Masa Depan” pada 29-30 Maret 2022 di Hotel Hyatt Regency Yogyakarta.

Side Event tentang TBC ini adalah bagian dari diskusi HWG dalam jalur Sherpa.

Baca juga: Yayasan Stop TB : Waspada TBC Laten, Tidak Bergejala Bisa Muncul Kapanpun

Pertemuan ini diharapkan bisa mendorong peningkatan anggaran untuk penanggulangan TBC di dunia serta memungkinkan pemangku kepentingan G20 memberikan masukan penting.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan dalam keynote speech nya bahwa ketika Indonesia diberi kepercayaan melalui presidensi G20 2022, Indonesia mempromosikan penguatan arsitektur kesehatan global serta memastikan program TBC yang lebih tangguh di masa mendatang.

 “Dengan upaya-upaya tersebut, kita tidak hanya memberikan perawatan yang paling dibutuhkan pasien dan keluarga TBC, tetapi juga,  kita akan mencapai hasil yang ingin kita semua lihat,” kata Sadikin.

Dikatakan, peningkatan investasi terhadap sumber daya dalam penanggulangan TBC akan menyokong upaya pemulihan kesehatan masyarakat untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi.

“Berkaca pada penanganan Covid-19, penyelesaian pandemik dapat dilakukan dengan kerjasama dan respon cepat,” kata Meirinda Sebayang.

Baca juga: Tahun ini, Kemenkes Agendakan Skrining TBC Besar-besaran

Meirinda Sebayang yang juga penyintas TBC resisten obat yang juga merupakan ketua Jaringan Indonesia Positif dan perwakilan komunitas dalam Dewan Stop TB Partnership mengatakan, perlu dilakukan untuk penanggulangan TBC.

“Komitmen harus dijalankan tidak hanya secara global nasional tapi juga hingga tingkat daerah. Tantangan yang dihadapi tidak hanya menyangkut dana tapi juga sistem pengelolaan dananya perlu diperhatikan,” ujarnya.

Selama 2 hari, acara side event ini terbagi menjadi 4 sesi dengan total 29 pembicara dari berbagai organisasi dan institusi global dan nasional.

1. Upaya dan Pendanaan untuk Mengakhiri TBC yang Tersedia Saat ini Belum Memenuhi Target untuk Tahun 2030

Penanggulangan TBC di dunia telah saat ini telah keluar dari jalur pencapaian target SDG TBC 2030, yaitu penurunan 90 persen tingkat kematian dan penurunan 80 persen angka kejadian.

Untuk dapat mengeliminasi TBC secara beriringan dengan adanya COVID-19, maka peningkatan investasi dibutuhkan pada ranah diagnosis dan pengobatan untuk semua jenis TBC, deteksi dini, pencegahan, vaksin TBC baru, dan obat-obatan yang lebih ramah bagi pasien TBC.

Baca juga: Eliminasi TBC Harus Dilakukan Multisektor

Direktur Eksekutif Stop TB Partnership, Lucica Ditiu menyatakan saat memimpin diskusi, “TBC adalah penyakit yang sudah muncul jauh sebelum Covid-19.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved