Minggu, 12 April 2026

Info Jayapura

Kepala SMPN 7 Sentani Menangis: Sekolah Dipalang dan Ujian Dibatalkan

Diketahui, gedung SD Inpres Melam Mili dan SMP Negeri 7 Sentani di Jalan Sosial, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, dipalang, Selasa (30/5/2022).

Penulis: Putri Nurjannah Kurita | Editor: Gratianus Silas Anderson Abaa
Tribun-Papua.com/ Putri
Kepala SMP Negeri 7 Sentani, Lidia Okoserai saat menangis dan bersandar di bahu seorang rekan gurunya di halaman sekolah SMP Negeri 7 Sentani di jalan Sosial, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Kepala SMP Negeri 7 Sentani, Lidia Okoserai menangis saat sekolahnya di palang oleh pemilik tanah, Selasa (30/5/2023).

Diketahui, gedung SD Inpres Melam Mili dan SMP Negeri 7 Sentani di Jalan Sosial, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, dipalang, Selasa (30/5/2022).

Ironinya, aksi pemalangan yang dilakukan pemilik tanah itu dilakukan saat para siswa tengah menjalani ujian sekolah.

Baca juga: Eks Karyawan Palang Kantor PT PSU di Tembagapura, Polisi Ambil Tindakan

Tak ayal, aktivitas sekolah terpaksa dihentikan di dua sekolah tersebut.

Hal ini membuat Lidia menangis tersedu-sedu saat bernegosiasi bersama pemilik tanah, personel Polsek Sentani dan ASN Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura.

Lidia meminta agar palang sekolah kembali dibuka.

Baca juga: BREAKING NEWS: Dua Sekolah Dipalang di Sentani Jayapura, Siswa dan Guru Telantar

Pasalnya, siswa tengah melaksanakan ujian.

Agenda ujian sekolah sendiri dilakukan pada 30 Mei – 6 Mei 2023, dan kemudian dilanjutkan pengumuman hasil ujian pada pekan depan.

Namun semua persiapan yang dilakukan guru dan siswa terpaksa dibatalkan karena pemalangan.

Alhasil, siswa langsung dipulangkan.

"Saya lihat keadaan seperti ini saya rasa sedih. Saya sebagaimana hati seorang ibu. Seadainya anak saya sekolah saya pasti suruh dia ikut ulangan. Dia harus belajar dengan baik. Dia harus datang ikut ujian," ungkap Lidia.

Lidia menjelaskan saat ini memikul beban dan tanggung jawab siswa dan sekolah di pundaknya.

"Anak-anak saya di sini mereka mau ke mana, kalau bukan kita yang didik mereka. Saya bukan bicara atas nama pribadi, tapi semua yang ada di sini menjadi tanggung jawab saya. Tanggung jawab moral."

Mengabdi selama 20 tahun di sekolah itu, Lidia berharap pemerintah daerah dapat menyikapi permasalahan tanah sesegera mungkin agar siswanya dapat kembali ke sekolah.

"Jika tidak ujian bagaimana anak-anak mengetahui proses pembelajaran," tanyanya. (*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved