Senin, 18 Mei 2026

Budaya Papua

Mengunyah PINANG, Permennya Orang Papua

Mereka menganggap buah pinang seperti candu, karena bila mereka tidak mengunyahnya, seperti ada yang kurang dalam hidup mereka.

Tayang:
Penulis: Roy Ratumakin | Editor: Roy Ratumakin
Tribun-Papua.com/Istimewa
ILUSTRASI - Masyarakat Papua gemar mengunyah pinang karena pinang dapat menguatkan gigi dan gusi. Tidak hanya itu, mereka menikmati buah pinang karena sensasi tersendiri dari rasanya. Kombinasi manis keasaman seperti rasa pasta gigi inilah yang menjadi sensasi mengunyah pinang. 

Hasil dari kombinasi ini adalah cairan kental berwarna merah yang biasanya diludahkan ke tanah oleh para pengunyah pinang.

Konon, hasil sisa kunyahan pinang ini dapat menyuburkan tanah atau tanaman karena masih tergolong sampah organik.

Baca juga: Sejak Kapan Orang Papua Makan Pinang? Begini Penjelasan Dosen Antropologi Unipa

Pinang Masuk dalam Famili Arecaceae

Pinang dalam bahasa Latinnya Areca catechu, atau Betel palm bahasa Inggrisnya adalah satu di antara jenis tumbuhan monokotil yang tergolong palem-paleman.

Dikutip dari laman Wikipedia, pohon pinang masuk ke dalam famili Arecaceae pada ordo Arecales.

Pohon ini merupakan salah satu tanaman dengan nilai ekonomi dan potensi yang cukup tinggi.

Tanaman yang memiliki batang lurus dan ramping ini memiliki banyak sekali manfaat dan umum dikenal sebagai tanaman obat.

 

 

Pemanfaatan tanaman pinang selain untuk ekspor ke Tiongkok dan beberapa negara Asia Selatan, di beberapa daerah Sumatra dan Kalimantan dimanfaatkan untuk acara seremonial seperti ramuan sirih pinang untuk upacara adat.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah mengubah pola pemanfaatan tanaman pinang seperti untuk keperluan farmasi dan industri, sementara India dan Tiongkok saat ini telah mengolah pinang menjadi permen.

 

Inovasi dalam Industri

Pinang sangat banyak manfaatnya, khususnya dalam industri makanan maupun energi sebagai biofuel.

Pemanfaatan buah pinang sebagai ramuan yang dimakan bersama sirih, telah menjadi kebiasaan secara turun temurun pada beberapa daerah tertentu di Indonesia, tetapi konsumennya terbatas.

Baca juga: Mengenal Kota Seribu Pinang, Julukan Ibu Kota Provinsi Papua

Sumber: Tribun Papua
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved