Jumat, 1 Mei 2026

Nasional

BMKG Sebut dari 16 Megathrust di Indonesia, Dua Zona Ini Perlu Waspada Gempa Besar

Untuk diketahui, Indonesia sebenarnya memiliki total 16 zona megathrust yang berada pada 6 zona subduksi aktif.

Tayang:
Editor: Lidya Salmah
istimewa
Ilustrasi apa itu gempa megathrust(canva.com) 

TRIBUN-PAPUA.COM-  Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono meminta masyarakat mewaspadai potensi gempa besar di dua zona megathrust Indonesia.

Ia mengatakan, zona megathrust Mentawai-Siberut di sepanjang batas barat Pulau Sumatera dapat menyebabkan gempa hingga magnitudo 8,9. 

Sementara, zona megathrust Selat Sunda diperkirakan bisa memicu gempa dahsyat dengan kekuatan M 8,7.

"Rilis gempa di kedua segmen megathrust ini boleh dikata 'tinggal menunggu waktu' karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar," ujar Daryono, Senin (12/8/2024).

Untuk diketahui, Indonesia sebenarnya memiliki total 16 zona megathrust yang berada pada 6 zona subduksi aktif.

Lantas, mengapa megathrust di zona Mentawai-Siberut dan Selat Sunda menjadi wilayah yang lebih diwaspadai?

Baca juga: Gempa Bumi Magnitudo 3,7 Mengguncang Teluk Wondama, Begini Penjelasan BMKG

Penjelasan ahli Guru Besar Bidang Geodesi Gempa Bumi Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano mengatakan, hanya dua zona megathrust tersebut yang belum rilis atau terjadi gempa besar.

 "Sesudah gempa Aceh 2004, Nias 2005, kemudian gempa Padang 2009, gempa 2010 di bagian bawah dari Mentawai," kata Irwan saat diwawancarai dalam "Obrolan Newsroom" Kompas.com, Kamis (15/8/2024).

 "Nah, bagian tengah kok enggak, itu kemudian menimbulkan banyak diskusi di kalangan ahli. Kenapa itu perlu menjadi perhatian? Karena itu paling tidak dalam catatan sejarah pada 1797 dan1833, pernah terjadi," tambahnya.

Menurutnya, ada tiga kondisi yang bisa digunakan untuk memastikan suatu daerah berpotensi gempa atau tidak.

Pertama, potensi gempa dapat dilihat dari data historis atau sejarah suatu wilayah. Sebab, gempa pasti akan terjadi secara berulang.

"Jadi kalau di masa lalu pernah terjadi (gempa), kemungkinan di masa depan akan terulang. Nah, di Mentawai kondisi itu terpenuhi, di masa lalu pernah terjadi 1797 dan 1833," jelas dia.

Sementara, gempa besar di zona megathrust Selat Sunda pernah terjadi pada 1699 dan 1780 dengan magnitudo 8,6. Kondisi kedua yang bisa dilihat adalah aktivitas kegempaannya yang sepi.  

"Jadi, ada daerah yang kiri dan kanannya gempa terus, tapi tengahnya sepi, dan kondisi kedua ini juga terpenuhi," ujarnya.

Irwan menuturkan, kondisi ketiga adalah zona tersebut sedang mengumpulkan atau mengakumulasikan energi.

Untuk mengetahui suatu zona sedang mengakumulasikan energi, hal itu bisa dilihat melalui pengamatan geodetik.

 "Jadi kita mengolah data dari Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan kita membuktikan bahwa akumulasi regangan sedang terjadi," kata dia.

 "Jadi ibarat orang nabung, ini sedang numpuk tabungannya, yang jadi pertanyaan itu akan dikeluarkan tiba-tiba atau tidak," tambahnya.

Pasalnya, secara teori, suatu zona yang sedang mengalami strain accumulation, pasti akan ada release, dalam hal ini gempa bumi.

 "Itulah kemudian yang menjadi perhatian dan alasan mengapa Zona Mentawai dan Selat Sunda lebih diwaspadai," tuturnya.

Baca juga: Gempa M4.6 Guncang Nabire Papua Tengah, BMKG: Warga Harus Tenang

Benarkah mampu belah pulau Jawa?

Terkait narasi yang menyebutkan bahwa gempa pada zona megathrust Selat Sunda berpeluang membelah pulau Jawa, ia memastikan bahwa hal itu tak mungkin terjadi.

 Sebagai gambaran, gempa Yogyakarta 2006 yang menelan lebih dari 6.000 korban jiwa, hanya menghasilkan robekan atau rekahan (rupture) 1,2 sentimeter.

"Itu yang kami temukan dan itu sepanjang 20 km. Saya rasa itu tidak cukup 'merobek' pulau Jawa," jelasnya.

 Menurutnya, robekan terbesar yang pernah dijumpainya di Indonesia adalah gempa Palu 2018 yang menghasilkan rekahan 2,5-5 meter.

 "Itu yang disebut robek, tapi ya tetep di situ, rumah masih kelihatan. Jadi itu informasi misleading," lanjutnya.

Irwan menilai, muncurnya informas hoaks semacam itu akibat dari minimnya literasi kebencanaan di kalangan masyarakat Indonesia. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul https://www.kompas.com/tren/read/2024/08/16/060000765/ada-16-megathrust-di-indonesia-mengapa-zona-mentawai-siberut-dan-selat?page=2

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved