Kamis, 21 Mei 2026

Pemkab Biak Numfor

Dinkes Biak Numfor Fokus Tangani Dua Isu Kesehatan lewat Workshop 

Imelda W Mansnembra menyoroti tingginya angka kematian akibat kanker mulut rahim di Indonesia yang mencapai 57 kasus per hari. 

Tayang:
Tribun-Papua.com/Fiona Sihasale
WORKSHOP DINKES - Kepala Dinas Kesehatan Biak Numfor, Daud Duwiri, bersama Ketua TP PKK Biak Numfor, Imelda W. Mansnembra, Ketua GOW Biak Numfor Renny H. Kapissa dan Asisten II serta narasumber foto bersama saat pembukaan workshop 

 

Ringkasan Berita:
  • Dengan kerja sama lintas sektor dan dukungan UNICEF, Duwiri berharap upaya edukasi dan pencegahan dapat semakin diperkuat, sehingga pelayanan kesehatan masyarakat dan perlindungan perempuan serta anak di Biak Numfor semakin optimal.

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Fiona Sihasale

TRIBUN-PAPUA.COM, BIAK NUMFOR - Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor menegaskan fokus pemerintah daerah dalam menghadapi dua isu kesehatan yang dinilai sangat krusial, yakni pencegahan kanker mulut rahim dan perkawinan anak. 

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Biak Numfor, Daud Duwiri, dalam workshop yang digelar bekerja sama dengan UNICEF Papua, Jumat (12/12/2025)

Duwiri menyebut kedua isu tersebut saling berkaitan dan memiliki dampak luas terhadap masa depan masyarakat. 

Baca juga: Warga Yafdas di Biak Antusias Ikut Pemilihan Kepala Kampung Serentak

Ia menegaskan bahwa kanker serviks masih menjadi ancaman nyata bagi perempuan Indonesia, termasuk di Biak Numfor, meski penyakit ini dapat dicegah melalui deteksi dini dan vaksinasi HPV.

“Edukasi yang tepat dan akses layanan kesehatan yang memadai adalah kunci pencegahan maupun penanganan,” kata Duwiri 

Ia menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen memperkuat pelayanan kesehatan, terutama skrining serta imunisasi HPV bagi anak-anak sekolah sebagai langkah preventif.

Menurutnya, peningkatan kualitas layanan kesehatan perempuan menjadi salah satu prioritas utama daerah.

Terkait pencegahan perkawinan anak, Duwiri mengatakan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar isu sosial atau budaya, melainkan persoalan kesehatan dan hak asasi manusia. 

“Pernikahan usia dini berdampak buruk pada kesehatan reproduksi remaja, meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi, serta berkaitan dengan kasus gizi buruk dan stunting,” katanya. 

Ia juga menambahkan, keberhasilan Biak Numfor menurunkan angka stunting harus dijaga dengan mengatasi akar persoalan, salah satunya melalui pencegahan perkawinan anak.

Dengan kerja sama lintas sektor dan dukungan UNICEF, Duwiri berharap upaya edukasi dan pencegahan dapat semakin diperkuat, sehingga pelayanan kesehatan masyarakat dan perlindungan perempuan serta anak di Biak Numfor semakin optimal.

Ketua TP PKK Biak Numfor, Imelda W Mansnembra, menyoroti tingginya angka kematian akibat kanker mulut rahim di Indonesia yang mencapai 57 kasus per hari. 

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved