Sabtu, 11 April 2026

Malaria di Mimika

Malaria Masih Jadi 'Raja' di Mimika Sejak 2022

Berdasarkan evaluasi tren kesehatan sejak awal 2022 hingga April 2026, pola penyakit di Mimika terpantau stabil tanpa adanya lonjakan

Tribun-Papua.com
MALARIA DI MIMIKA - Kepala Puskesmas Timika, dr Mozes Untung ketika wawancara di Mimika, Jumat (10/4) 2026). Ia mengatakan penyakit malaria masih mendominasi selama 4 tahun terakhir. (Feronike Rumere). 

Ringkasan Berita:
  • Puskesmas Timika terus melakukan upaya edukasi kesehatan dan pengendalian vektor untuk menekan kasus malaria di wilayah kerja mereka. 
  • Langkah ini dilakukan melalui sosialisasi, survei jentik, abatisasi, serta fogging di sejumlah fasilitas umum guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Feronike Rumere

TRIBUN-PAPUA.COM, MIMIKA – Meski waktu terus berganti, malaria rupanya masih memegang "takhta" sebagai penyakit dengan jumlah kasus tertinggi hingga tahun 2026 di wilayah kerja Puskesmas Timika, Provinsi Papua Tengah. 

Berdasarkan evaluasi tren kesehatan sejak awal 2022 hingga April 2026, pola penyakit di Mimika terpantau stabil tanpa adanya lonjakan ekstrem, namun posisi malaria tetap berada di peringkat teratas.

Kepala Puskesmas Timika, dr Mozes Untung memastikan pihaknya terus melakukan berbagai langkah untuk menekan malaria, misalnya rutin melakukan edukasi dan pengendalian vektor. 

Dr. Mozes Untung mengatakan perkembangan penyakit pada triwulan pertama tahun 2022 di wilayah Mimika cenderung tidak mengalami perubahan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Baca juga: Dongeng dan Buku Saku Papua Warnai Karya Nusantara Siswa SATP Timika

Menurutnya, pola penyakit yang terjadi masih relatif sama dan belum ditemukan adanya peningkatan kasus yang bersifat ekstrem maupun yang mengarah pada kejadian luar biasa (KLB) atau wabah.

“Memang belum ada peningkatan kasus yang ekstrem ataupun yang berpotensi menjadi wabah. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang sempat ditemukan kasus campak,” ujarnya di Mimika, Jumat (10/4/2026). 

Berdasarkan data pelayanan Puskesmas Timika sejak Januari hingga Maret 2022, penyakit dengan jumlah kasus tertinggi adalah malaria, disusul Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Tingginya kasus malaria dan ISPA dipengaruhi oleh kondisi lingkungan serta perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan.

Baca juga: Pastikan Sarmi Bersih di Hari Jadi, Bupati Dominggus Pimpin Apel Gabungan dan Kerja Bhakti Massal

“Tingginya kasus malaria dan ISPA ini dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dan perilaku, baik secara individu maupun masyarakat,” jelasnya.

Dalam upaya menekan kasus malaria, mereka terus melakukan berbagai langkah pengendalian yang pada dasarnya sama seperti tahun sebelumnya.

Setiap kegiatan di luar gedung puskesmas dimanfaatkan untuk memberikan sosialisasi terkait pencegahan malaria, demam berdarah, serta pentingnya pengendalian lingkungan dan hal itu mulai dilakukan sejak Januari 2022.

Sementara kegiatan pengendalian vektor atau pemberantasan sarang nyamuk, rutin dilakukan tiap bulan melalui survei jentik untuk mencari lokasi perkembangbiakan nyamuk.

“Jika ditemukan tempat perkembangbiakan nyamuk, baik malaria maupun demam berdarah, akan dilakukan abatisasi untuk membunuh jentik,” ungkapnya.

Baca juga: Jelang HUT ke-24 Sarmi, Bupati dan Wakil Pimpin OPD Belanja Hasil Kebun Mama-mama Papua

Tidak hanya itu, Puskesmas Timika juga melakukan fogging atau pengasapan di sejumlah fasilitas umum, seperti sekolah, kantor, dan tempat ibadah yang mengajukan permintaan.

Melalui berbagai upaya tersebut, diharapkan kasus malaria di wilayah Mimika dapat ditekan serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan.(*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved