Info Biak Numfor
DPR Papua: Potensi Perikanan Biak Numfor Terganjal Keterbatasan Alat Tangkap
Napas ekonomi di darat pun tersengal. Para petani di Biak Numfor melaporkan sulitnya mengakses bibit unggul dan pupuk.
Penulis: Fiona Sihasale | Editor: Paul Manahara Tambunan
Ringkasan Berita:
- Di sisi lain, Wakum memotret realitas sosial terkait minimnya hunian layak.
- Ia mengungkapkan masih banyak rumah di pedalaman Biak yang dihuni oleh tiga hingga empat kepala keluarga sekaligus.
- Kondisi kepadatan ini memerlukan perhatian serius melalui sinkronisasi dengan program nasional pembangunan tiga juta rumah.
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Fiona Sihasale
TRIBUN-PAPUA.COM, BIAK — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Johanes Markus Wakum, menyoroti masih rendahnya dukungan sarana prasarana bagi sektor kerakyatan di Kabupaten Biak Numfor.
Keterbatasan alat tangkap ikan dan modal usaha dinilai menjadi faktor utama yang menghambat produktivitas masyarakat dalam menyambut berbagai program nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam rangkaian agenda reses, pengawasan, dan dengar pendapat yang dilakukan Wakum di sejumlah titik, meliputi Kampung Swaipak (Distrik Swandiwe), Kampung Warbor (Distrik Biak Utara), Kampung Yenusi (Distrik Biak Timur), hingga Kampung Waupnor (Distrik Biak Kota).
Baca juga: Adopsi Konsep Raja Ampat, Biak Numfor Siapkan Pulau Runi Jadi Kawasan Konservasi Laut Pertama
"Di sektor perikanan, kami menemukan fakta memprihatinkan. Selama dua tahun terakhir, satu perahu motor harus digunakan bersama oleh dua kelompok nelayan. Kondisi ini jelas menghambat produktivitas," ujar Wakum saat ditemui Tribun-Papua.com di sela reses di Biak, Senin (30/3/2026).
Padahal, menurut politisi Gerindra ini, kebutuhan pasokan ikan diprediksi melonjak seiring implementasi program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tanpa adanya modernisasi alat tangkap dan penyediaan fasilitas pendingin (cold storage), nelayan lokal dikhawatirkan hanya akan menjadi penonton dan gagal memenuhi permintaan pasar yang besar.
Selain persoalan armada, para nelayan juga mengeluhkan rusaknya rumpon-rumpon tradisional akibat aktivitas kapal besar di perairan tersebut.
Hal ini berdampak langsung pada penurunan volume tangkapan harian.
Tak hanya di laut, napas ekonomi di darat pun tersengal. Para petani di Biak Numfor melaporkan sulitnya mengakses bibit unggul dan pupuk.
Wakum menekankan pentingnya kehadiran dinas teknis untuk memberikan pendampingan berkelanjutan agar pengelolaan lahan bisa mencapai hasil optimal.
Baca juga: Legislator Papua Johanes Markus Wakum Fokus Kembangkan Ekonomi Kerakyatan di Biak Numfor dan Supiori
"Sektor UMKM juga membutuhkan sentuhan permodalan dari pemerintah daerah. Potensi ekonomi lokal sangat besar, namun tanpa dukungan finansial yang kuat, masyarakat akan sulit naik kelas," ujarnya.
Krisis Hunian
Di sisi lain, Wakum memotret realitas sosial terkait minimnya hunian layak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/S-DEWAN-Anggota-DPR-Pa.jpg)