Minggu, 14 Juni 2026

Papua Selatan Terkini

Papua Selatan Hadapi Risiko Ganda Kerawanan Pangan dan Bencana

Dari total 48 kabupaten/kota di Pulau Papua, sebanyak 17 daerah masuk dalam kategori merah atau rawan pangan.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
PERTANIAN - Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo di lokasi persawahan Kampung Urumb, Merauke,. 

Ringkasan Berita:
  • Dari total 48 kabupaten/kota di Pulau Papua, sebanyak 17 daerah masuk dalam kategori merah atau rawan pangan.
  • Papua Selatan menjadi sorotan tajam karena letak geografisnya rentan bencana, yang secara langsung memperparah instabilitas distribusi dan ketersediaan bahan pokok.

 

TRIBUN-PAPUA.COM, MERAUKE — Provinsi Papua Selatan kini menempati posisi puncak dalam peta risiko kerawanan pangan dan bencana di Indonesia.

Data terbaru Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) 2025 mengonfirmasi bahwa anomali iklim dan kerentanan struktur sosial menjadi tantangan utama di wilayah timur Nusantara tersebut.

Dari total 48 kabupaten/kota di Pulau Papua, sebanyak 17 daerah masuk dalam kategori merah atau rawan pangan.

Papua Selatan menjadi sorotan tajam karena letak geografisnya rentan bencana, yang secara langsung memperparah instabilitas distribusi dan ketersediaan bahan pokok.

Baca juga: Gugatan Masyarakat Adat Malind-Anim Terhadap Bupati Merauke Mulai Disidangkan di PTUN Jayapura

Direktur Pengendali Kerawanan Pangan Bapanas, Sri Nuryanti, dalam diskusi daring bertajuk "Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem," Senin (30/3/2026), menegaskan pentingnya peran Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).

"Wilayah di Papua Selatan memerlukan mitigasi yang lebih proaktif. Dampak bencana di sana jauh lebih signifikan terhadap ketahanan pangan dibandingkan wilayah lain," ujarnya.

Pergeseran Indikator

Secara nasional, FSVA 2025 memetakan 81 kabupaten/kota yang tergolong rentan, dengan konsentrasi utama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Meskipun kemiskinan tetap menjadi variabel determinan utama, terdapat pergeseran signifikan pada indikator risiko kedua.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya tingkat pendidikan rendah menjadi pemicu utama, kini posisi tersebut digantikan oleh minimnya akses terhadap paket layanan penanggulangan stunting.

Hal ini mengindikasikan adanya korelasi kuat antara kesehatan lingkungan dengan ketahanan pangan kronis.

"Stunting terjadi akibat infeksi berulang, yang sering kali dipicu oleh konsumsi pangan yang tidak aman dari cemaran biologis maupun kimia. Ini adalah bentuk nyata dari kerawanan pangan kronis," kata Sri menjelaskan.

Analisis Bapanas menunjukkan bahwa daerah dengan potensi bencana memiliki risiko kerawanan pangan 1,25 kali lebih tinggi.

Namun, Sri memberikan catatan krusial: ketiadaan bencana bukan jaminan ketahanan pangan.

Baca juga: Tolak PSN Wanam-Muting, PMKRI Nilai Proyek Ancam Hutan dan Hak Ulayat Papua

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
VS
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
VS
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
VS
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
VS
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved