Jumat, 8 Mei 2026

Kerusuhan di Dogiyai

Dogiyai Berdarah Jelang Paskah: 7 Nyawa Melayang, Dewan Adat Minta Negara Tak Tutup Mata

Menurut Alexander, peristiwa yang menewaskan enam warga sipil dan seorang anggota Polri itu merupakan tragedi kemanusiaan yang

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
KERICUHAN DI DOGIYAI - Sebuah bangunan terbakar saat kericuhan di sekitar Mapolres Dogiyai, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pada Selasa (31/3/2026) malam. 

Ringkasan Berita:
  • Tragedi Berdarah: 7 orang tewas (6 warga sipil dan 1 polisi) dalam bentrokan di Dogiyai menjelang Paskah.
  • Pemicu Konflik: Situasi memanas pasca penemuan jasad polisi di Moanemani yang diikuti penyisiran aparat.
  • Warga Trauma: Ribuan warga mengungsi karena ketakutan, menyebabkan sekolah dan aktivitas ibadah lumpuh.
  • Tuntutan Keadilan: Dewan Adat MEE mendesak Pemerintah dan Komnas HAM melakukan investigasi independen.

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Sekretaris Jenderal Dewan Adat MEE KAMAPI Kabupaten Dogiyai, Alexander Pakage, menyoroti insiden berdarah yang terjadi di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, menjelang perayaan Paskah 2026.

Menurut Alexander, peristiwa yang menewaskan enam warga sipil dan seorang anggota Polri itu merupakan tragedi kemanusiaan yang harus mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat, aparat penegak hukum, hingga lembaga hak asasi manusia.

Ia menilai, peristiwa yang terjadi di Dogiyai tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa karena seluruh korban merupakan warga negara Indonesia yang tinggal di wilayah NKRI.

“Ini bukan terjadi di negara lain, tetapi di dalam wilayah Indonesia. Korban yang meninggal dunia adalah warga negara Indonesia, termasuk seorang anggota Polri,” kata Alexander kepada Tribun-Papua.com, Minggu (5/4/2026).

Baca juga: Mimika Sambut Fajar Baru, Ibadah Paskah 2026 Jadi Momen Move On ke Hidup yang Baru

Alexander mengungkapkan, situasi di Dogiyai mulai memanas setelah ditemukan jasad Bripda Jufentus Edowai di sekitar Gereja Ebenezer Moanemani, Distrik Moanemani.

Bripda Jufentus diketahui merupakan anggota Polri aktif yang selama ini dikenal dekat dan sering bergaul dengan masyarakat setempat.

Menurut Alexander, anggota polisi tersebut dikenal sering berinteraksi dengan warga dan para pemuda di Dogiyai dalam kehidupan sehari-hari.

Ia bahkan disebut kerap duduk bersama warga, berbincang dengan para pemuda, hingga membeli rokok bersama di sekitar kawasan Moanemani.

Namun, polisi tersebut ditemukan meninggal dunia di dekat area keramaian masyarakat dengan kondisi mengenaskan.

Alexander mengatakan, penemuan jasad Bripda Jufentus memicu situasi yang semakin tegang di tengah masyarakat.

Baca juga: Bupati Johannes Rettob Lepas Ribuan Cahaya Kemenangan Paskah Keliling Kota Mimika

Ia menyebut, setelah kejadian tersebut aparat keamanan melakukan penyisiran dan situasi kemudian berkembang menjadi bentrokan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan warga sipil.

“Peristiwa ini membuat masyarakat ketakutan. Banyak warga yang memilih mengungsi karena khawatir akan terjadi aksi susulan,” ujarnya.

Berdasarkan data yang beredar di masyarakat, sedikitnya enam warga sipil dilaporkan meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka berat akibat insiden tersebut.

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved