Peringatan 63 Tahun 1 Mei, KNPB Desak Perhatian Dunia Terhadap Papua
KNPB menggelar seminar nasional di Jayapura pada 1 Mei 2026 untuk memperingati 63 tahun peristiwa 1 Mei 1963.
Penulis: Yulianus Magai | Editor: Astini Mega Sari
Ringkasan Berita:
- KNPB menggelar seminar nasional di Jayapura pada 1 Mei 2026 untuk memperingati 63 tahun peristiwa 1 Mei 1963.
- Acara ini menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus forum menyuarakan kondisi kemanusiaan di Papua, dengan harapan perhatian dunia internasional semakin terbuka.
- Melalui diskusi dan rekomendasi, KNPB menekankan pentingnya dialog serta pendekatan yang berlandaskan kemanusiaan dan keadilan.
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menggelar seminar nasional memperingati 63 tahun peristiwa 1 Mei 1963 di Kota Jayapura, Papua, Jumat (1/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor KNPB Pusat, kawasan Perumnas III Waena, Distrik Heram tersebut mengangkat tema “Papua Darurat Militer dan Kemanusiaan”.
Seminar ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, aktivis, hingga tokoh masyarakat yang datang untuk mengikuti jalannya diskusi serta mendengar langsung pandangan yang disampaikan oleh para narasumber.
Peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi sejarah sekaligus ruang untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dinilai masih terjadi di Papua hingga saat ini.
Dalam suasana yang berlangsung tertib, para peserta tampak serius mengikuti setiap pemaparan, mencerminkan tingginya perhatian terhadap isu yang dibahas.
Baca juga: Pimpinan ULMWP Sebut Nasib Bangsa Papua Terancam Setelah 63 Tahun Integrasi
Ketua Umum KNPB, Agus Kossay, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan 1 Mei memiliki makna mendalam bagi pihaknya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 1 Mei 2026 ini merupakan bagian dari upaya untuk terus mengingat sejarah sekaligus menyampaikan aspirasi kepada dunia internasional.
“Kegiatan ini bukan hanya seremoni tahunan. Bagi kami, ini adalah momen refleksi sejarah yang sangat penting, sekaligus ruang untuk menyampaikan kondisi yang dirasakan masyarakat Papua hari ini kepada dunia internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa setiap tahun, tanggal 1 Mei selalu diperingati sebagai bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif serta menyuarakan berbagai persoalan yang menurutnya masih membutuhkan perhatian serius.
“Setiap tanggal 1 Mei kami selalu memperingatinya, karena ini bagian dari sejarah yang tidak bisa dilupakan. Kami ingin dunia melihat dan mendengar langsung apa yang terjadi di Papua, baik dari sisi sejarah maupun kondisi masyarakat saat ini,” katanya.
Dalam pemaparannya, KNPB juga menyinggung proses penyerahan administrasi wilayah Papua dari United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) kepada Indonesia pada 1 Mei 1963.
Mereka menilai peristiwa tersebut masih menjadi bagian dari diskursus panjang yang perlu dilihat dari berbagai sudut pandang.
Agus menjelaskan bahwa bagi KNPB, peristiwa tersebut memiliki makna historis yang terus mereka angkat dalam setiap peringatan tahunan.
“Kami memandang peristiwa 1 Mei 1963 sebagai bagian penting dalam perjalanan sejarah Papua. Karena itu, kami terus menyuarakannya agar menjadi perhatian bersama, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Baca juga: May Day di Tanah Papua: Menagih Janji Otsus bagi Pekerja Asli Papua yang Masih Marginal
| Sidak Bulog Papua, Anggota DPR RI Yan Mandenas Tekankan Pentingnya Percepatan Distribusi Pangan |
|
|---|
| Yan Mandenas: Demonstrasi Bukan Ancaman, melainkan Nutrisi Demokrasi |
|
|---|
| DPR RI Soroti Juknis Nasional yang Dipaksakan di Daerah 3T Saat Tinjau Bulog Papua |
|
|---|
| Ternak Babi dan SSH Jadi Usulan Utama Pemkab Puncak di Musrenbang |
|
|---|
| Pimpinan ULMWP Sebut Nasib Bangsa Papua Terancam Setelah 63 Tahun Integrasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/Ketua-Umum-Komite-Nasional-Papua-Barat-KNPB-Agus-Kossay.jpg)