Kamis, 14 Mei 2026

Film

Dokumenter 'Pesta Babi': Mengurai 60 Tahun Eksploitasi dan Deforestasi di Papua

Keterlibatan jaringan politikus, investor, dan instansi keamanan yang sering kali berhadapan langsung dengan gerakan sosial komunitas lokal.

Tayang:
Tribun-Papua.com/Istimewa
FILM PESTA BABI - Suasana Nonton bareng film dokumenter 'Pesta Babi' yang di sutradarai Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Perampasan tanah ulayat, eksploitasi sumber daya alam, dan peningkatan eskalasi operasi militer di Papua selama enam dekade terakhir kini disebut mencapai skala yang mengkhawatirkan. 

Ringkasan Berita:
  • Judul ini merupakan metafora terhadap relasi kekuasaan, sekaligus menggambarkan strategi bertahan OAP melalui kombinasi gerakan kebudayaan, agama, dan politik.
  • Keterlibatan jaringan politikus, investor, dan instansi keamanan yang sering kali berhadapan langsung dengan gerakan sosial komunitas lokal.

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita 

TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI — Perampasan tanah ulayat, eksploitasi sumber daya alam, dan peningkatan eskalasi operasi militer di Papua selama enam dekade terakhir kini disebut mencapai skala yang mengkhawatirkan.

Fenomena ini terekam dalam film dokumenter investigasi terbaru berjudul Pesta Babi (Pig Feast).

Sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale mengungkapkan film ini memotret kondisi di selatan Papua, di mana sekitar 2,5 juta hektar tanah dan hutan milik suku-suku pribumi kini sedang dalam proses konversi menjadi proyek lumbung pangan (food estate) serta energi.

"Ini adalah deforestasi terencana yang terbesar dalam sejarah dunia. Ini merupakan episode berikutnya dari penghisapan Papua sejak tambang emas mulai dibuka di Timika pada 1967," ujar Dandhy Laksono dalam pernyataan tertulisnya diterima Tribun Papua, Rabu (13/5/2026).

Baca juga: Satgas TNI Habema Bantah Terlibat Penembakan Warga di Tembagapura Papua Tengah

Ancaman terhadap Masyarakat Adat

Film berdurasi 95 menit produksi kolaborasi Jubi Media, Watchdoc, Greenpeace, dan sejumlah lembaga bantuan hukum ini menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap keberlangsungan hidup Orang Asli Papua (OAP).

Dandhy menyebutkan, kehadiran setidaknya 2.000 unit alat berat yang menggusur hutan serta pengerahan ribuan tentara untuk mengamankan proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu memicu protes luas dari masyarakat adat.

Beberapa kisah pilu yang diangkat antara lain:

  • Suku Marind Anim: Yasinta Moiwend yang terkejut melihat ratusan ekskavator bersandar di dermaga kampungnya dengan pengawalan militer ketat.
  • Suku Yei: Vincen Kwipalo yang mendapati tanah marganya dipatok sepihak dengan tulisan "Tanah Milik TNI AD" untuk pembangunan markas batalyon.
  • Suku Awyu: Gerakan komunitas Awyu di Boven Digoel yang memasang "Salib Merah" raksasa sebagai bentuk palang adat untuk menghadang penetrasi perusahaan dan militer.

Pemilihan judul Pesta Babi diakui Dandhy bukan sekadar merujuk pada ritual kebudayaan Melanesia.

Judul ini merupakan metafora terhadap relasi kekuasaan, sekaligus menggambarkan strategi bertahan OAP melalui kombinasi gerakan kebudayaan, agama, dan politik.

“Kami memilih Pesta Babi karena adat ini adalah ritual penting, sekaligus simbol gerakan memperkuat diri dan menentukan masa depan sendiri di tengah gempuran kolonial,” kata Dandhy.

Poster film Pesta Babi karya Dandhy Laksono.
Poster film Pesta Babi karya Dandhy Laksono. (Instagram/cypripajudale)

Ia juga membandingkan situasi di Papua dengan tragedi kemanusiaan di tempat lain untuk memicu refleksi publik mengenai makna kemerdekaan dan keadilan sesuai Mukadimah UUD 1945.

Baca juga: Film Pesta Babi: Kisah Luka dan Perlawanan dari Tanah Papua

Relasi Kepentingan

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved