Rabu, 20 Mei 2026

Kenaikan BBM di Papua

Nelayan Kaimana Hanya Pasrah Tanpa Solusi Ketika BBM Terus Mencekik

“Kalau dibilang merasa beban karena minyak mahal, sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi, kita harus mencari. Mau mengeluh juga tidak

Tayang:
Tribun Papua Barat
INFO KAIMANA - Salah satu Nelayan Kaimana, Idhin Wuwur usai pulang melaut saat ditemui di Pantai Air Merah Kaimana, Selasa (19/5/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Tercekik BBM Mahal: Nelayan di Kaimana tetap melaut demi bertahan hidup meskipun harga BBM eceran melambung hingga Rp16.000 per liter.
  • Biaya Operasional Tinggi: Sekali melaut membutuhkan sekitar 180 liter BBM dengan total modal mencapai lebih dari Rp3 juta untuk operasional dan bekal.
  • Pendapatan Tidak Sebanding: Harga jual ikan di pasaran relatif murah dan hanya naik seribu rupiah, tidak sebanding dengan modal melaut yang melonjak.

 

TRIBUN-PAPUA.COM, KAIMANA - Nelayan di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat tetap melaut untuk memenuhi kebutuhan hidup, meski harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terus melambung dan mencekik pendapatan rakyat jelata.

Salah satu nelayan, Idhin Wuwur (34), mengaku tetap beraktivitas di laut meski biaya operasional semakin berat di dompet.

Baca juga: Bupati Biak Numfor Instruksikan Pembenahan Data Bansos yang Salah Sasaran

“Kalau dibilang merasa beban karena minyak mahal, sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi, kita harus mencari. Mau mengeluh juga tidak tahu kepada siapa,” ujar Idhin saat ditemui di Pantai Air Merah, Kaimana, Selasa (19/5/2026).

Idhin menjelaskan, sekali melaut ia membutuhkan sekitar 180 liter BBM.

Bahan bakar tersebut dibeli dari pengecer dengan harga Rp16.000 per liter, bahkan sudah bercampur oli.

Baca juga: Pemkab Jayapura Segel Reklame Nakal Demi Target PAD Rp3 Miliar

“Sekali melaut bisa habis Rp2.880.000 hanya untuk minyak. Kalau ditambah bekal, bisa lebih dari tiga juta rupiah,” ungkapnya.

Menurut Idhin, harga ikan yang diperoleh masih relatif murah dan tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional.

“Harga ikan naik paling seribu rupiah. Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi ini dan memberikan perhatian,” katanya.

Baca juga: Pemkab Mimika Susun Perbup Baru untuk Dongkrak Pelayanan Dasar Posyandu

Untuk menekan biaya, Idhin bersama rekan-rekan nelayan kerap bermalam di pulau saat cuaca kurang bersahabat.

“Kalau hasil tangkapan sedikit, kami bisa bermalam empat sampai lima malam di pulau sebelum kembali ke kota,” tuturnya.(*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved