Jumat, 17 April 2026

PENDIDIKAN PAPUA

Mengajar di Ujung Negeri: Kisah Melkias Wali dan Taruhan Pendidikan Papua Menuju 2030

Di wilayah perbatasan langsung Indonesia – Papua Nugini (PNG) itu, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang harapan,

Tribun-Papua.com/Yulianus Magai
PENDIDIKAN PAPUA - Melkias Wali, guru honorer diwawancarai Tribun-Papua.com di Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) Uprub di Distrik Web, Kabupaten Keerom, Papua, Sabtu (2/11/2024). 

Ringkasan Berita:
  • Dedikasi Tanpa Batas: Melkias Wali, guru honorer di perbatasan RI-PNG, mengajar sendirian untuk enam kelas sekaligus selama 10 tahun.
  • Krisis Guru PNS: Meski tercatat ada guru PNS, realitanya hanya Melkias yang aktif mengabdi sementara tenaga pendidik lain sering meninggalkan tempat tugas.
  • Kesejahteraan Minim: Tanpa gaji tetap dan kejelasan status, Melkias bertahan demi memastikan anak-anak Papua bisa baca, tulis, dan hitung.

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai 

TRIBUN-PAPUA.COM JAYAPURA - Di Distrik Web, Kabupaten Keerom, Papua, suara kapur di papan tulis masih menjadi penanda dimulainya pelajaran. Tidak ada bel sekolah otomatis, tak pula ruang kelas yang lengkap. Namun setiap pagi, Melkias Wali tetap berdiri di depan murid-muridnya, memastikan satu hal paling dasar dalam pendidikan: anak-anak Papua bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Di wilayah perbatasan langsung Indonesia – Papua Nugini (PNG) itu, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang harapan, sekaligus benteng terakhir agar anak-anak Papua tidak tertinggal jauh dari dunia luar.

Melkias bukan guru pegawai negeri. Ia hanyalah guru honorer di Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) Uprub. Namun di pundaknya, masa depan ratusan anak Papua dititipkan.

“Saya satu-satunya guru yang tiap hari mengajar enam kelas. Mengajar apa saja, yang penting mereka bisa baca dan berhitung,” ujar Melkias kepada Tribun-Papua.com, Sabtu, (2/11/2024).

Baca juga: Jadwal Kapal Pelni KM Pangrango Terbaru 6-15 Januari 2026, Cek Waktu Kedatangan di Ambon

Kisah Melkias Wali bukan sekadar cerita pengabdian individu. Ia adalah potret nyata tantangan pendidikan Papua di tengah komitmen Indonesia mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), menjelang lima tahun krusial menuju 2030.

Mengajar sebagai Panggilan Hidup

Sejak 2014, Melkias memilih tetap mengajar di Kampung Ubrub. Ia telah mendidik sekitar 183 anak, tanpa kepastian gaji, status, maupun jaminan masa depan. Upah yang diterimanya pun tak menentu kadang per tiga bulan, kadang per semester, bahkan pernah bersumber dari dana kampung.

“Saya sendiri bingung, saya ini dibiayai dari mana. Dari yayasan atau dari pemerintah,” katanya sambil tersenyum.

Baca juga: Update Daftar Harga HP Xiaomi Januari 2026, Redmi Note 14 Pro 5G Dibanderol Rp4 Jutaan

Namun kebingungan itu tak pernah menyurutkan langkahnya. Bagi Melkias, mengajar bukan soal pekerjaan, melainkan panggilan hidup dan tanggung jawab moral.

“Kalau saya tidak mengajar, saya merasa berdosa. Mereka ini harapan,” ujarnya.

Di sekolah tempatnya mengabdi, tercatat ada tiga guru berstatus PNS dan tiga guru bantu. Namun dalam praktiknya, Melkias kerap mengajar sendirian. Ia mengisi enam kelas sekaligus, memprioritaskan pelajaran dasar agar anak-anak tidak kehilangan fondasi pendidikan.

Kondisi ini memperlihatkan jurang antara data administrasi dan realitas lapangan sebuah persoalan klasik pendidikan di Papua yang tak kunjung tuntas.

Baca juga: Jadwal Kapal Pelni KM Wilis Terbaru 7-13 Januari 2026, Lewati Kupang dan Makassar

 Pendidikan Papua dan Janji SDGs

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved