Kamis, 7 Mei 2026

FESMED 2026

Wolas Krenak: Wartawan Papua yang Menembus Istana dan Menjaga Suara Pinggiran

Tatapannya lembut, suaranya pelan namun mengandung keyakinan panjang. Dialah Thontji Wolas Krenak, wartawan senior Papua yang

Tayang:
Tribun-Papua.com/Yulianus Magai
FESTIVAL MEDIA - Jurnalis Senior di Papua, Thontji Wolas Krenak saat memberikan keterangan kepada Tribun Papua.com, disela sela  Festival Media Perdana se-Tanah Papua di Nabire, Papua Tengah, Rabu  (14/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Sosok Legendaris: Thontji Wolas Krenak hadir di Fesmed Papua 2026 sebagai inspirator jurnalisme humanis bagi generasi muda.
  • Jejak Karier: Menjadi wartawan Papua pertama yang bertugas tetap di Istana Kepresidenan RI sejak era reformasi/tahun 2000.
  • Prinsip Jurnalisme: Ia menekankan bahwa menulis adalah cara menjaga identitas Papua agar tidak hilang dari sejarah dirinya sendiri.

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai

‎TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Di tengah riuh Festival Media Perdana se-Tanah Papua 2026 di Nabire, Papua Tengah, seorang lelaki berambut putih berdiri tenang di hadapan ratusan wartawan muda, pelajar dan aktivis media. 

Tatapannya lembut, suaranya pelan namun mengandung keyakinan panjang. Dialah Thontji Wolas Krenak, wartawan senior Papua yang hidupnya telah menyatu dengan kata-kata dan perjuangan.

“Saya menulis bukan untuk terkenal. Saya menulis supaya orang Papua tidak hilang dari cerita tentang dirinya sendiri,” katanya membuka perbincangan, dengan Tribun-Papua.com disela sela kegiatan Rabu (14/1/2026).

Perjalanan jurnalistik Wolas dimulai sejak akhir 1970-an saat ia masih kuliah di Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. Di masa itu, ruang bagi orang Papua untuk berbicara tentang dirinya sendiri hampir tidak ada.

Baca juga: Pemkab Biak Apresiasi Jenewa-UNICEF Gelar Program MBG Terintegrasi Papua Genius

“Kalau kita tidak menulis tentang Papua, orang lain yang akan menulis. Dan sering kali mereka tidak mengerti Papua,” ujarnya.

Tulisan-tulisannya mulai terbit di media kampus dan media lokal. Salah satu yang paling dikenang berjudul "Putri Irian di Lahap”, sebuah kritik tajam tentang bagaimana Papua terus dieksploitasi tanpa menghadirkan suara rakyatnya.

Kariernya kemudian berkembang ketika ia bergabung dengan Suara Pembaruan, media nasional. Di sana, ia dibina oleh wartawan senior Papua seperti Wem Kasjtau dan Bill Rettob. Dari situlah Wolas masuk ke dunia pers Nasional.

“Sebagai orang Papua saya harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan bahwa kami juga bisa menjadi wartawan profesional,” katanya.

Baca juga: DPRK Kritik Bupati Intan Jaya Aner Maisini ke Toraja saat Rakyat Mengungsi Akibat Konflik

Pada tahun 2000, Wolas mencatat sejarah sebagai wartawan Papua pertama yang bertugas tetap di Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Dari ruang-ruang kekuasaan di Jakarta, ia menyaksikan langsung bagaimana Papua dibicarakan di tingkat tertinggi negara.

Namun kedekatannya dengan pusat kekuasaan tidak pernah mengubah prinsipnya.

“Wartawan itu seperti wakil rakyat. Kita tidak dipilih lewat pemilu, tetapi dipilih oleh kepercayaan rakyat. Karena itu kita tidak boleh berbohong,” tegasnya.

Dalam Festival Media Papua 2026 yang digelar oleh Asosiasi Wartawan Papua (AWP), Wolas menyampaikan materi tentang,  “Menghadirkan Jurnalisme Humanis: Mengutamakan Suara dari Pinggiran.”.

Ia mengkritik pemberitaan yang kerap mengabaikan sisi kemanusiaan orang Papua.

Baca juga: Mantan Kadis Kominfo Jayapura Nilai Fesmed AWP Perlu Jadi Agenda Rutin

Sumber: Tribun Papua
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved