FESMED 2026
Wolas Krenak: Wartawan Papua yang Menembus Istana dan Menjaga Suara Pinggiran
Tatapannya lembut, suaranya pelan namun mengandung keyakinan panjang. Dialah Thontji Wolas Krenak, wartawan senior Papua yang
Penulis: Yulianus Magai | Editor: Marius Frisson Yewun
Ringkasan Berita:
- Sosok Legendaris: Thontji Wolas Krenak hadir di Fesmed Papua 2026 sebagai inspirator jurnalisme humanis bagi generasi muda.
- Jejak Karier: Menjadi wartawan Papua pertama yang bertugas tetap di Istana Kepresidenan RI sejak era reformasi/tahun 2000.
- Prinsip Jurnalisme: Ia menekankan bahwa menulis adalah cara menjaga identitas Papua agar tidak hilang dari sejarah dirinya sendiri.
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai
TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Di tengah riuh Festival Media Perdana se-Tanah Papua 2026 di Nabire, Papua Tengah, seorang lelaki berambut putih berdiri tenang di hadapan ratusan wartawan muda, pelajar dan aktivis media.
Tatapannya lembut, suaranya pelan namun mengandung keyakinan panjang. Dialah Thontji Wolas Krenak, wartawan senior Papua yang hidupnya telah menyatu dengan kata-kata dan perjuangan.
“Saya menulis bukan untuk terkenal. Saya menulis supaya orang Papua tidak hilang dari cerita tentang dirinya sendiri,” katanya membuka perbincangan, dengan Tribun-Papua.com disela sela kegiatan Rabu (14/1/2026).
Perjalanan jurnalistik Wolas dimulai sejak akhir 1970-an saat ia masih kuliah di Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. Di masa itu, ruang bagi orang Papua untuk berbicara tentang dirinya sendiri hampir tidak ada.
Baca juga: Pemkab Biak Apresiasi Jenewa-UNICEF Gelar Program MBG Terintegrasi Papua Genius
“Kalau kita tidak menulis tentang Papua, orang lain yang akan menulis. Dan sering kali mereka tidak mengerti Papua,” ujarnya.
Tulisan-tulisannya mulai terbit di media kampus dan media lokal. Salah satu yang paling dikenang berjudul "Putri Irian di Lahap”, sebuah kritik tajam tentang bagaimana Papua terus dieksploitasi tanpa menghadirkan suara rakyatnya.
Kariernya kemudian berkembang ketika ia bergabung dengan Suara Pembaruan, media nasional. Di sana, ia dibina oleh wartawan senior Papua seperti Wem Kasjtau dan Bill Rettob. Dari situlah Wolas masuk ke dunia pers Nasional.
“Sebagai orang Papua saya harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan bahwa kami juga bisa menjadi wartawan profesional,” katanya.
Baca juga: DPRK Kritik Bupati Intan Jaya Aner Maisini ke Toraja saat Rakyat Mengungsi Akibat Konflik
Pada tahun 2000, Wolas mencatat sejarah sebagai wartawan Papua pertama yang bertugas tetap di Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Dari ruang-ruang kekuasaan di Jakarta, ia menyaksikan langsung bagaimana Papua dibicarakan di tingkat tertinggi negara.
Namun kedekatannya dengan pusat kekuasaan tidak pernah mengubah prinsipnya.
“Wartawan itu seperti wakil rakyat. Kita tidak dipilih lewat pemilu, tetapi dipilih oleh kepercayaan rakyat. Karena itu kita tidak boleh berbohong,” tegasnya.
Dalam Festival Media Papua 2026 yang digelar oleh Asosiasi Wartawan Papua (AWP), Wolas menyampaikan materi tentang, “Menghadirkan Jurnalisme Humanis: Mengutamakan Suara dari Pinggiran.”.
Ia mengkritik pemberitaan yang kerap mengabaikan sisi kemanusiaan orang Papua.
Baca juga: Mantan Kadis Kominfo Jayapura Nilai Fesmed AWP Perlu Jadi Agenda Rutin
Tribun-Papua.com
Festival Media (Fesmed) 2026
jurnalis Papua
Jurnalis
Jurnalistik
Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
Komunitas Jurnalis Kota Jayapura
wartawan senior
Papua Raya
Pers Papua
Festival Media se-Papua
Papua
| Mantan Kadis Kominfo Jayapura Nilai Fesmed AWP Perlu Jadi Agenda Rutin |
|
|---|
| Pesan Viktor Mambor di Fesmed 2026: Kalau Mau Pancing Hiu, Jangan Pakai Umpan Ikan Kecil |
|
|---|
| Sensasi VR 360 Imaji Papua Bawa Pengunjung Festival Media Masuk ke Cerita |
|
|---|
| Tak Lagi Sendiri, Wartawan 6 Provinsi Papua Bangun Kekuatan Kolektif Melalui Fesmed 2026 |
|
|---|
| Sejarah di Bumi Cenderawasih: 300 Jurnalis dari 6 Provinsi Siap Berkumpul di Nabire |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/sadkadkasdjasjlgjasda.jpg)