Minggu, 3 Mei 2026

Sarmi

Hampir Dua Dekade Guru Honorer di Sarmi Bekerja Tanpa Kepastian Status

Enos Worumboy merupakan guru honorer yang selama satu dekade lebih telah mengabdikan diri untuk mendidik generasi muda di

Tayang:
Tribun-Papua.com/Anderson Esris
PENDIDIKAN SARMI - Guru honorer SMA YPK Sarmi, Enos Worumboy ketika wawancara di Sarmi, Sabtu,(2/5/2026). Ia telah mengabdi selama 17 tahun dan mengharapkan suatu saat bisa diangkat menjadi ASN. 
Ringkasan Berita:
  • Pengabdian Panjang: Enos Worumboy telah menjadi guru honorer di SMA YPK Ebenhaizer Sarmi selama 17 tahun tanpa henti.
  • Tanpa Kepastian: Meski sudah mengabdi hampir dua dekade, ia belum juga mendapatkan status ASN baik melalui jalur PNS maupun PPPK.
  • Tetap Setia: Walau memiliki penghasilan minim dan masa depan belum pasti, Enos tetap konsisten mengajar dan menyiapkan materi setiap hari.

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Anderson Esris

TRIBUN-PAPUA.COM.SARMI – Di balik papan tulis yang setiap hari ia hadapi, tersimpan kisah panjang pengabdian seorang guru honorer di SMA YPK Ebenhaizer Sarmi, Provinsi Papua. Kisah ini menggambarkan keteguhan seorang pendidik yang telah lama berjuang dalam dunia pendidikan tanpa kepastian status kepegawaian.

Saat ditemui wartawan Tribun-Papua.com usai upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Sarmi, Sabtu (2 Mei 2026), sosok guru tersebut menceritakan perjalanan panjangnya sebagai tenaga honorer yang telah mengabdi selama 17 tahun.

Enos Worumboy merupakan guru honorer yang selama satu dekade lebih telah mengabdikan diri untuk mendidik generasi muda di Kabupaten Sarmi. Namun hingga kini, ia belum juga mendapatkan kepastian status sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), baik sebagai PNS maupun PPPK.

Baca juga: Mahasiswa Jayawijaya Tuntut Transparansi Beasiswa dan Perhatian Bagi Guru

Dalam kesehariannya, ia menjalani rutinitas mengajar tanpa banyak keluhan. Datang lebih awal, menyiapkan materi pembelajaran, dan mengajar dengan penuh tanggung jawab sudah menjadi bagian dari pengabdiannya selama ini.

Meski demikian, di balik rutinitas tersebut tersimpan harapan besar yang belum terwujud, yakni diangkat menjadi ASN. Harapan itu tetap ia simpan di tengah perjalanan panjang sebagai tenaga pendidik honorer.

Sebagai guru honorer, ia harus menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari penghasilan yang minim hingga tidak adanya jaminan masa depan yang pasti. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengabdi di dunia pendidikan.

Baca juga: TPNPB Klaim Serang Koramil Dekai Hingga Satu Anggota TNI Tewas

“Selama ini saya hanya menjalankan tugas sebagai guru dengan sebaik-baiknya. Harapan saya sederhana, semoga suatu saat bisa diangkat menjadi ASN seperti yang lain,” ungkapnya.

Momentum Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei menjadi titik harapan baru baginya. Ia berharap pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan nasib guru honorer yang telah lama mengabdi tanpa kepastian status.

Menurutnya, pengabdian selama belasan tahun bukanlah waktu yang singkat. Ia telah menyaksikan banyak siswa berhasil meraih cita-cita, sementara dirinya masih menanti pengakuan atas dedikasi yang telah diberikan selama ini.

Baca juga: Satu Kamar Kos Jadi Kelas dan Tempat Tidur Belasan Bocah Pedalaman Yalimo di Jayapura

Kisah ini menjadi cerminan nyata perjuangan banyak guru honorer di daerah yang tetap setia mengajar di depan kelas, meski belum mendapatkan penghargaan dan kepastian yang layak atas pengabdian mereka.

Di balik papan tulis itu, bukan hanya pelajaran yang ia tularkan, tetapi juga ketulusan dan harapan bahwa suatu hari pengabdian panjang ini akan benar-benar terbayarkan.(*)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved