Perang Suku di Jayawijaya
Sopater Sam Ajak Kelompok Bertikai di Wamena Jaga Honai Bersama
Konflik tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena perang suku di wilayah Papua Pegunungan selama ini kerap
Penulis: Yulianus Magai | Editor: Marius Frisson Yewun
Ringkasan Berita:
- Konflik Suku di Wamena: Bentrokan antarsuku kembali pecah di Distrik Wouma, melumpuhkan aktivitas warga dan memicu ketakutan.
- Kutukan Aksi Brutal: Anggota DPD RI Sopater Sam mengutuk keras kekerasan brutal terhadap perempuan dan anak-anak dalam konflik tersebut.
- Jaga Rumah Bersama: Sopater mengingatkan bahwa Papua Pegunungan adalah "honai bersama" yang tidak boleh dirusak oleh perang.
Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Yulianus Magai
TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Konflik perang suku kembali pecah di Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis hingga Jumat (14-15/5/2026). Bentrokan yang melibatkan kelompok masyarakat Suku Lanny (Pirime) dan Suku Wouma (Kurima), serta menyeret kelompok suku Yalimeek, membuat situasi keamanan di sejumlah wilayah sekitar Wamena kembali memanas.
Konflik tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena perang suku di wilayah Papua Pegunungan selama ini kerap menimbulkan korban jiwa, kerusakan rumah warga, hingga mengganggu aktivitas pendidikan, pelayanan publik, dan perekonomian masyarakat.
Sejumlah warga dilaporkan memilih membatasi aktivitas di luar rumah karena khawatir bentrokan kembali terjadi. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan dan tokoh masyarakat kini terus melakukan berbagai upaya mediasi guna meredam konflik dan mencegah meluasnya aksi saling serang antarkelompok warga.
Peristiwa tersebut mendapat perhatian serius dari Anggota DPD RI asal Papua Pegunungan, Sopater Sam.
Baca juga: Bupati Biak Numfor Minta HIKMA Hadirkan Program Berdampak Bagi Masyarakat
Kepada Tribun-Papua.com, Minggu (17/5/2026), usai menghadiri pertemuan bersama gubernur dan wakil gubernur Papua Pegunungan serta para bupati dan wakil bupati se-Papua Pegunungan di Posko Induk Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Sopater Sam menyampaikan keprihatinannya atas konflik yang kembali terjadi di tanah Papua.
Menurutnya, masyarakat Papua Pegunungan merupakan satu keluarga besar yang hidup dalam satu rumah bersama sehingga konflik berkepanjangan tidak boleh terus terjadi.
“Masalah Papua Pegunungan ini kita sebagai anak daerah harus sama-sama hadir dan menyelesaikan. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Papua Pegunungan adalah rumah bersama, honai kita bersama. Kalau rumah ini rusak karena perang, maka semua orang akan merasakan dampaknya,” ujar Sopater Sam.
Ia mengatakan perang suku tidak pernah membawa keuntungan bagi masyarakat, melainkan hanya meninggalkan luka, penderitaan dan trauma berkepanjangan bagi generasi muda Papua.
Baca juga: Kapolda Ungkap Konflik Wamena Berawal Dari Kasus Laka Lantas 2024
Menurut Sopater, setiap konflik yang terjadi selalu membawa dampak sosial yang besar terhadap kehidupan masyarakat kecil, terutama perempuan dan anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan saat perang terjadi.
“Setiap kali perang terjadi, rakyat kecil yang paling menderita. Anak-anak tidak bisa sekolah, mama-mama takut pergi ke pasar, masyarakat tidak bisa berkebun dengan tenang. Situasi seperti ini tidak boleh terus terjadi,” katanya.
Sopater juga menyoroti adanya tindakan kekerasan brutal dalam konflik tersebut yang menurutnya sangat tidak manusiawi dan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.
Ia mengaku sangat prihatin mendengar adanya korban perempuan dan anak-anak yang menjadi sasaran dalam aksi kekerasan saat bentrokan berlangsung.
“Mereka membakar anak-anak dan istri di dalam rumah secara brutal. Itu tindakan yang sangat tidak manusiawi. Kami mengutuk keras tindakan seperti itu karena tidak mencerminkan nilai kemanusiaan dan budaya orang Papua,” tegasnya.
Baca juga: Tradisi Toleransi Muslim Fakfak Bergema di Gotong Royong Sambut HUT Katolik
Tribun-Papua.com
Perang Suku di Jayawijaya
Perang Suku
Perang Suku di Kabupaten Jayawijaya
Info Wamena
Wouma
Masyarakat Adat Wouma
Kabupaten Lanny Jaya
Lanny Jaya
| Kapolda Ungkap Konflik Wamena Berawal Dari Kasus Laka Lantas 2024 |
|
|---|
| Polda Papua Siagakan 3 SSK Brimob untuk Redam Perang Suku di Jayawijaya |
|
|---|
| Tim Gabungan Rilis Laporan Tragedi Kemburu: 12 Warga Sipil Tewas, Puluhan Ribu Orang Mengungsi |
|
|---|
| Wabup Jayawijaya Minta Polda Papua Percepat Penambahan Pasukan agar Perang Suku Tak Meluas |
|
|---|
| Konflik Antarwarga di Jayawijaya Meluas, Dua Orang Tewas dan 609 Warga Mengungsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/pernsaugkumaplima.jpg)