Perang Suku di Jayawijaya
Sopater Sam Ajak Kelompok Bertikai di Wamena Jaga Honai Bersama
Konflik tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena perang suku di wilayah Papua Pegunungan selama ini kerap
Penulis: Yulianus Magai | Editor: Marius Frisson Yewun
Menurutnya, perempuan dan anak-anak tidak boleh menjadi korban dalam konflik apa pun. Ia meminta semua pihak untuk menghentikan tindakan kekerasan yang dapat menambah penderitaan masyarakat sipil.
“Kita ini sesama orang Papua, sesama saudara. Jangan sampai karena konflik lalu masyarakat yang tidak bersalah menjadi korban. Itu sangat menyedihkan dan tidak boleh terulang lagi di tanah Papua,” ujarnya.
Ia menilai seluruh pihak harus mulai meninggalkan pola penyelesaian konflik melalui kekerasan dan lebih mengedepankan dialog adat serta pendekatan kemanusiaan.
“Kita tidak boleh lagi ada pembunuhan yang brutal dan biadab. Orang Papua ini sudah sedikit, jadi harus saling menjaga sesama kita orang Papua. Jangan karena persoalan tertentu lalu kita saling habisi. Itu bukan jalan keluar,” tegasnya.
Sopater juga mengajak seluruh tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, dan pemerintah daerah untuk bersama-sama turun menenangkan masyarakat dan mendorong penyelesaian damai.
Baca juga: DPR Papua Barat Minta Tradisi Sasi Laut Jadi Warisan Abadi Teluk Wondama
Menurutnya, budaya orang Papua sejatinya mengajarkan tentang persaudaraan, saling menghormati, dan menjaga kehidupan bersama, sehingga konflik harus diselesaikan melalui musyawarah dan mekanisme adat.
“Kalau ada masalah mari duduk bicara baik-baik. Jangan langsung angkat senjata perang atau saling menyerang. Kita ini saudara, kita hidup di tanah yang sama dan makan dari tanah yang sama,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Papua Pegunungan saat ini sedang membangun diri sebagai daerah otonom baru yang membutuhkan situasi aman dan stabil agar pembangunan dapat berjalan dengan baik.
Menurut Sopater, konflik berkepanjangan hanya akan menghambat kemajuan daerah dan merugikan masyarakat sendiri.
“Papua Pegunungan ini sedang membangun masa depan. Kita sedang membangun generasi muda, pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat. Kalau konflik terus terjadi, pembangunan akan terganggu dan masyarakat sendiri yang dirugikan,” katanya.
Baca juga: Hasil Panen Jagung Binaan Polda Papua Meroket Tajam Hingga 264 Persen
Lebih lanjut, Sopater meminta kedua kelompok yang bertikai untuk menahan diri dan menghentikan aksi balas dendam yang dapat memperluas konflik ke wilayah lain.
Ia percaya penyelesaian melalui mekanisme adat masih sangat dihormati masyarakat Papua dan dapat menjadi jalan terbaik untuk menciptakan perdamaian.
“Saya percaya para kepala suku, tokoh adat, gereja, dan pemerintah bisa duduk bersama mencari solusi terbaik. Yang paling penting sekarang adalah hentikan perang dan selamatkan masyarakat,” ucapnya.
Selain itu, Sopater juga meminta aparat keamanan menjalankan tugas secara humanis dan mengutamakan pendekatan persuasif agar situasi dapat kembali kondusif tanpa menambah ketegangan di tengah masyarakat.
Baca juga: Warga Menyesal Bayar Tempat Hanya Demi Menikmati Sampah Pasir Putih Manokwari
Sementara itu, pemerintah daerah bersama aparat keamanan masih terus melakukan penjagaan dan mediasi di sejumlah titik di Distrik Wouma dan wilayah sekitarnya guna mencegah bentrokan susulan.
Tribun-Papua.com
Perang Suku di Jayawijaya
Perang Suku
Perang Suku di Kabupaten Jayawijaya
Info Wamena
Wouma
Masyarakat Adat Wouma
Kabupaten Lanny Jaya
Lanny Jaya
| Kapolda Ungkap Konflik Wamena Berawal Dari Kasus Laka Lantas 2024 |
|
|---|
| Polda Papua Siagakan 3 SSK Brimob untuk Redam Perang Suku di Jayawijaya |
|
|---|
| Tim Gabungan Rilis Laporan Tragedi Kemburu: 12 Warga Sipil Tewas, Puluhan Ribu Orang Mengungsi |
|
|---|
| Wabup Jayawijaya Minta Polda Papua Percepat Penambahan Pasukan agar Perang Suku Tak Meluas |
|
|---|
| Konflik Antarwarga di Jayawijaya Meluas, Dua Orang Tewas dan 609 Warga Mengungsi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/papua/foto/bank/originals/pernsaugkumaplima.jpg)