Sabtu, 25 April 2026

Kerusuhan di Papua

2 Pendekatan yang Bisa Dilakukan agar Masyarakat Papua Sembuh dari Luka Pasca-Kerusuhan

Dalam menyikapi persoalan kerusuhan di Papua, tidak cukup hanya memberikan bantuan logistik. Diperlukan pendekatan terhadap masyarakat setempat.

Editor: mohamad yoenus
(KOMPAS.COM/DHIAS SUWANDI)
Usai kerusuhan di Kota Jayapura, Papua, pada 29 Agustus 2019, pada Sabtu (31/08/2019) pagi aktifitas masyarakat sudah mulai pulih. Pasar tradisional, SPBU mulai beroperasi. Masyarakat, petugas kebersihan hingga Polisi mulai melakukan aksi bersih-bersih di jalanan 

Selanjutnya melakukan pendekatan budaya untuk memulihkan kondisi dan rasa aman mereka terhadap tanah tempat tinggal mereka tersebut.

"Setiap daerah itu punya kearifan lokal masing-masing. Nah untuk memulihkan agar mereka tidak mengalami trauma dengan daerahnya sendiri yaitu dengan menggunakan budaya setempat itu juga," ujar Endang.

Nyanyikan Lagu tentang Papua, Glenn Fredly: Jangan Percaya kalau Orang Papua Jahat, Mereka Baik

Contoh yang dimaksudkan Endang yaitu orang Papua suka membuat makanan khas daerah seperti kue lontar dan papeda, dari sagu.

Nah, para pengungsi terutama kaum ibu akan diajak masak bersama di dapur pengungsian.

Sembari memasak, relawan dan juga psikiater ataupun psikolog akan mencoba mengobrol dengan sesekali memberikan narasi-narasi positif.

"Itu (memasak bersama) kan bisa ngobrol kan. Nah, memasak bersama itu bisa menenangkan mereka (ibu pengungsi), pada saat itu kita masuki naras-narasi positif gitu. Aspirasi positif yang bisa membangun semangat lagi kemudian membawa membangun keamanan dan kenyaman mereka dan kita juga," ucap dia.

Serta, kearifan lokal di Papua dijelaskan oleh Endang bahwa peran mama atau sebutan bagi wanita (ibu) bagi masyarakat Papua sangatlah berpengaruh.

Mama berperan sebagai pencari nafkah dan juga pengendali sosial yang dihormati di masyarakat Papua.

Cerita 4 Dokter yang Bertugas ketika Kerusuhan dan Pasca-Kerusuhan di Papua

Oleh karena itu, misi utama yang baiknya dilakukan untuk mengembalikan keadaan dan kondisi para pengungsi lebih baik yaitu membuat mama tersebut merasa lebih baik atau berbahagia.

“Kita buat mama nya bahagia atau lebih baik dengan narasi-narasi positif, itu akan berpengaruh ke anak-anak mereka dan juga suami mereka untuk lebih tenang mendengarkan mama mereka. Termasuk untuk yang mengalami trauma sekalipun, mama itu kuncinya,” kata dia.

Pelukan mama terhadap anaknya menjadi hal yang biasa dilakukan masyarakat Papua, ini juga yang dianggap menjadi budaya yang bernilai lebih untuk masyarakat Papua, maka kesehatan dan perasaan bahagia mama itu menjadi lebih utama.

Kedua pendekatan ini juga berlaku untuk dilakukan kepada pengungsi akibat kerusuhan di Papua, yang bukan warga asli setempat. (Kompas.com/Ellyvon Pranita)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Pasca Ricuh Papua, Masyarakat Butuh 2 Pendekatan agar Sembuh dari Luka

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved