Kerusuhan di Papua

Komnas HAM Minta Pengungsi Tak Sebarkan Informasi Bernada Provokasi terkait Kerusuhan Wamena

Komnas HAM perwakilan Papua meminta pengungsi diminta tidak menyebarkan informasi atau kabar bernada negatif terkait kerusuhan Wamena.

Komnas HAM Minta Pengungsi Tak Sebarkan Informasi Bernada Provokasi terkait Kerusuhan Wamena
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Pengungsi Wamena Papua asal Jawa Timur saat tiba menggunakan pesawat hercules di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Rahu (2/10/2019). Sebanyak 120 pengungsi wamena asal jawa timur tiba di Malang untuk kembali ke daerah asal paska kerusuhan di Wamena yang mengakibatkan 33 orang tewas. 

TRIBUNPAPUA.COM - Kepala kantor Komnas HAM perwakilan Papua, Frits Ramandey meminta para pengungsi yang masih bertahan di Wamena, Jayawijaya, Jayapura, atau kota-kota lain diminta tidak menyebarkan informasi atau kabar bernada negatif terkait kerusuhan yang terjadi pada Senin (23/9/2019) di Wamena.

Menurutnya, informasi negatif justru semakin memperkeruh keadaan.

Padahal, kata Frits, saat ini kondisi di Wamena berangsur kondusif.

 

Sebut Situasi di Papua Makin Memburuk, Veronica Koman: Saya Tak akan Berhenti Bersuara soal Papua

“Jikalau ada di antara para pengungsi mengalami insiden langsung saat kejadian, sebaiknya jangan menyebarkan informasi atau kabar yang bernada provokasi lagi, karena itu akan memunculkan sentimen baru dan dampak negatif lainnya,” kata Frits Ramandey kepada wartawan, Senin (7/10/2019).

Lebih lanjut Frits menyebut, informasi yang diberikan pengungsi sering dimanfaatkan dan diputarbalikkan kelompok tertentu.

Ia pun khawatir, berita yang terkesan provokatif sangat berpotensi memicu kekerasan, baik kekerasan fisik, kebencian, dendam, atau sentimen-sentimen baru.

Benny Wenda Sebut Lobi-lobi Diplomatiknya soal Papua Sama seperti Perjuangan Orang Palestina

"Oleh karena itu, pemerintah kabupaten dan kota mesti mencegah kelompok-kelompok atau aktor yang berpotensi meresahkan masyarakat. Buka komunikasi dengan baik supaya warga mendapat jaminan bahwa kerusuhan tidak akan terjadi lagi," katanya.

Sejauh ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi, serta Dinas Informasi dan Komunikasi Papua sudah memblokir dan membatasi akses internet di Papua paska kerusuhan.

Sementara di sisi lain, perusahaan Facebook Inc, Kamis (3/10/2019), mengumumkan telah menghapus ratusan laman, grup, dan akun Facebook di empat negara, termasuk Indonesia.

Ekonomi di Wamena Mulai Menggeliat Pascarusuh, Namun Harga Makanan Mahal, 1 Ekor Ayam Rp600 Ribu

Tindakan itu diambil karena pengelola Facebook mengidentifikasi adanya  pelanggaran yang disebut sebagai, 'perilaku tak otentik terkoordinasi.' Diantara yang dihapus termasuk 100 akun terkait Papua.

Halaman
12
Editor: mohamad yoenus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved