Breaking News:

Virus Corona

IDI Tanggapi Wacana New Normal Parsial di Depok: Kondisi Ini seperti Api dalam Sekam

Dilihat dari kacamata epidemiologis, keputusan tersebut dinilai dapat berpotensi mengulang peristiwa merebaknya Covid-19 dalam waktu yang bersamaan.

Editor: Astini Mega Sari
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Petugas medis Dinas Kesehatan Kota Bogor melakukan swab test Covid-19 di Pasar Bogor, Selasa (12/5/2020). Seorang pedagang dinyatakan positif Corona setelah mengikuti rapid test Covid-19 massal yang digelar Badan intelijen Negara (BIN) di Pasar Bogor kemarin. 

TRIBUNPAPUA.COM - Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok melaporkan bahwa tren penularan Virus Corona dan temuan pasien positif tiap harinya mulai melambat selama beberapa hari ke belakang.

Wali Kota Depok Mohammad Idris juga mulai mengapungkan wacana bakal menerapkan PSBB hanya di level RW atau kelurahan zona merah saja, sembari menyiapkan new normal atau normal baru di luar zona merah jika penularan tak melonjak pada 4 Juni 2020 nanti.

Akan tetapi, Ketua Satuan Tugas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Depok Alif Noeriyanto punya pendapat lain.

Dilihat dari kacamata epidemiologis, keputusan tersebut dinilai dapat berpotensi mengulang peristiwa merebaknya Covid-19 dalam waktu yang bersamaan (outbreak), seperti yang terjadi pada awal Maret 2020.

"Ada, ada (potensi outbreak seperti awal Maret). Jadi sebetulnya kondisi ini api dalam sekam. Kita tidak tahu, apakah memang betul-betul normal atau tidak normal," jelas Alif ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (2/6/2020).

"Ini malah kita harus was-was," tambah dia.

Update Virus Corona di Indonesia 2 Juni: 27.549 Kasus Positif, 7.935 Sembuh, 1.663 Meninggal

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar kekhawatiran Alif bahwa wacana Pemkot Depok menerapkan kenormalan baru secara parsial kelak berpeluang mengulang outbreak awal Maret.

Pertama, outbreak kemungkinan besar terjadi saat gelombang arus balik para pemudik tiba di Depok.

"Dugaan kami, mereka akan segera mau kembali di minggu ini. Sudah banyak pembicaraan di medsos, orang-orang mau mengecek swab untuk ART yang kembali dari daerah. Itu harus diwaspadai," kata dia.

Kedua, penerapan new normal kerap disusul oleh gelombang kedua penularan Virus Corona, bercermin dari pengalaman beberapa negara maju.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved